Senin, 07 Mei 2012

Ibu diatas Lemari

Suatu ketika saya mendengar seorang anak remaja mendesis memaki ibunya. "Kalo ortu gak sekolah ya gitu, jadul, apa-apa dilarang. Menyebalkan dech..!". Saya melirik sekilas. Remaja ini masih berbaju sekolah abu-abu. Dari ocehannya, jelas ada kegalauan. Ia merasa kultur keluarga dan sikap ibunya selalu menyandera keinginannya.
Potret diatas hanya satu contoh. Bahwa setelah orang tua bersusah payah dan perihatin menyekolahkan anak-anak, ternyata sikap anak bisa tumbuh diluar ekspektasi orang tua. Alih-alih menghormati, sebagian anak-anak justeru berdiri seperti menara gantung. Mereka tidak sedikitpun menyadari bahwa orang tualah yang telah turut andil menjadikannya cerdas dan hebat, sekalipun pengetahuan orang tua masih bertahan sesuai tradisi lama dan kerap dipoyoki 'katro'. Bisa dikatakan predikat orang tua adalah serba buruk, dan segala kebaikan adalah milik anak-anak yang terdidik.
Tapi sebenarnya ada hal yang anak-anak sekolahan itu mahfumi. Betapa mereka kini maju dan terdidik, kalau saja dimasa lalu --ditengah kesulitan ekonomi keluarga--mereka tidak dijaga dan dibesarkan, pastilah ia cuma sepotong daging busuk yang teronggok di tempat sampah. Diluar kelemahan dan kekurangan beliau, saya --sepakat dengan seniman Drajat Nur Angkoso-- kalo anak-anak harus memposisikan Sang Ibu seperti Kitab Suci. Yakni, sekalipun jarang dibaca dan ajaran-ajarannya kurang diminati, tapi rasa hormat atas kitab suci harus diletakkan diatas lemari.
Ibu, maafkan anakmu kalau ada lara karna salahku!