Minggu, 24 Juni 2012

Sang Pemilik

Saya baru takziah melepas kawan dan senior yang pernah bekerjasama satu kantor. Almarhum adalah seorang pekerja keras, pendiam, dan sangat loyal. setidaknya testimoni dinas secara resmi disampaikan dihadapan pelayat maupun bisik-bisik kawan yang hadir pula jelang pemakaman. Saya mengamini.

Seorang sepuh yang mewakili keluarga kemudian memberikan ucapan pamitan. "Saudara saya dan kawan bapak-ibu semua telah berpulang. Dia adalah titipan yang tadi malam dengan baik-baik telah diambil kembali oleh pemiliknya. Pemiliknya adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia tidak kuasa menolak. Mari lepas kepergiannya kembali dengan hati yang bersih." Semua pelayat menunduk dan diam.


Setiap catatan akhir pada acara takziah selalu menarik buat saya. Tentu, menemui keluarga dan berusaha turut menguatkan dalam keadaan duka serta bertemu kembali dengan kolega-kolega dari berbagai generasi adalah hal menarik lainnya.

Ikhwal kesadaran manusia sebagai titipan-akhirat menurut saya penting. Hal ini memberi daya lentur supaya manusia tidak jumawa. Bahwa sebenarnya direlung terdalam kepemilikannya atas hidup dan segala kehidupan dunia, manusia ada pemiliknya. Manusia paling kaya sekalipun dengan segenap kehidupan yang dimilikinya tetaplah tidak luput dari kepunyaan Tuhan sebagai pemegang Hak Milik.

Apa yang harus diberikan kembali pada Sang Pemilik?
Kita harus mengembalikan diri kita seutuhnya bersih seperti saat bayi dilahirkan. Badan, pikiran dan qolbu yang kotor mungkin membuat kecewa Sang Pemilik. Tidak etis mengembalikan sesuatu kepada orang lain dengan keadaan yang seperti sedia kala atau lebih baik. Demikian pula, tidak patut rasanya kita sowan atau kembali pada Sang Pemilik dengan keadaan kotor apalagi dengan hati yang sudah sobek-sobek.

Ya Robbi... Tak kuasa aku bertasbih bagai malaikat. Tapi aku pun takut terjatuh direlung  maksiat.

Selamat jalan,  kawanku Muftisalim! 

Senin, 07 Mei 2012

Ibu diatas Lemari

Suatu ketika saya mendengar seorang anak remaja mendesis memaki ibunya. "Kalo ortu gak sekolah ya gitu, jadul, apa-apa dilarang. Menyebalkan dech..!". Saya melirik sekilas. Remaja ini masih berbaju sekolah abu-abu. Dari ocehannya, jelas ada kegalauan. Ia merasa kultur keluarga dan sikap ibunya selalu menyandera keinginannya.
Potret diatas hanya satu contoh. Bahwa setelah orang tua bersusah payah dan perihatin menyekolahkan anak-anak, ternyata sikap anak bisa tumbuh diluar ekspektasi orang tua. Alih-alih menghormati, sebagian anak-anak justeru berdiri seperti menara gantung. Mereka tidak sedikitpun menyadari bahwa orang tualah yang telah turut andil menjadikannya cerdas dan hebat, sekalipun pengetahuan orang tua masih bertahan sesuai tradisi lama dan kerap dipoyoki 'katro'. Bisa dikatakan predikat orang tua adalah serba buruk, dan segala kebaikan adalah milik anak-anak yang terdidik.
Tapi sebenarnya ada hal yang anak-anak sekolahan itu mahfumi. Betapa mereka kini maju dan terdidik, kalau saja dimasa lalu --ditengah kesulitan ekonomi keluarga--mereka tidak dijaga dan dibesarkan, pastilah ia cuma sepotong daging busuk yang teronggok di tempat sampah. Diluar kelemahan dan kekurangan beliau, saya --sepakat dengan seniman Drajat Nur Angkoso-- kalo anak-anak harus memposisikan Sang Ibu seperti Kitab Suci. Yakni, sekalipun jarang dibaca dan ajaran-ajarannya kurang diminati, tapi rasa hormat atas kitab suci harus diletakkan diatas lemari.
Ibu, maafkan anakmu kalau ada lara karna salahku!    
   

Senin, 19 Maret 2012

Rindu

Selama saya kuliah di jogja ada hal yang tidak pernah berubah dari Ayah. Beliau tidak berkenan mentransfer kiriman uang kuliah lewat bank atau berkirim wesel lewat kantor pos di kecamatan. Beliau rela berpayah mengantar langsung uang saku anak ke kampus yang berjarak lebih dari 100 km. Sekalipun suatu kali hanya bertemu sebentar karena diburu masuk perkuliahan, ia tidak pernah merasa menyesal. Saat itu, ia berdalih kiriman uangnya cuma tidak seberapa jadi kalau dikirim lewat bank atau pos akan rugi terpotong ongkos kirim. Awalnya saya percaya saja.

Suatu hari setelah saya sudah bekerja dan menjadi seorang ayah pula. Saya coba mempertanyakan kembali pertimbangan "kebijakan keuangan" ayah yang demikian. Bukankah sebenarnya ongkos kirim tidak lebih mahal dari pada ongkos naik bus atai tiket kereta dari rumah ke Jogja? Dalih ketika itu agaknya alasan kulit. Beruntung ayah mau menjelaskan.

Dengan tersenyum khas ayah bercerita.
Bahwa bukan uang yang jadi pokok perkara sebenarnya. Tapi maksud uang diantar langsung maka ayah bisa bertemuan langsung. Berarti pula, ia bisa melihat langsung tiap sentimeter perkembangan lahir dan batin anaknya. Sekalipun ayah yang perangkat desa baru bisa berangkat selepas kantor tutup dan tentu sudah pasti capek tapi menemui anaknya dan berkomunikasi tatap muka adalah ritual tersendiri yang tidak tergantikan.

Didalam pertemuan yang seringkali singkat itu terbungkus banyak hal. Diantaranyasudah pasti kiriman masakan kering ibu dari dapur rumah. Pengawasan rutin orang tua terhadap kemajuan studi anak. Konfirmasi keberadaan kegiatan anak pada kawan-kawan yang tinggal seasrama melaui obrolan santai. Mencuri perhatian anak melalui makan siang gratis di warung saat hendak pulang.

Tidak selamanya sebagai anak saya merasa nyaman. Ketika kehendak privacy anak tengah meruap begitu hebat maka kunjungan orang tua ke asrama yang waktunya tidak tertetu adalah sangat menyakitkan. Maksud orang tua yang begitu mulia tidak selamanya dapat dipahami oleh nalar anak.Sebaliknya, terdapat perkembangan anak yang tidak mudah diterima oleh orang tua. Tidak jarang ada ketegangan psikologis bahkan sikap memberontak.       

Setelah sekian waktu pengalaman itu mengendap dan saya pun tumbuh sebagai ayah. Saya baru dapat mengerti dan berempati. Orang tua di benua timur sepertinya tidak pernah sedetikpun ingin dipisahkan dengan anak-anaknya. Segala hal yang dimiliki pasti ingin diberikan demi membahagiakan anak walau sebagian keliru tanpa sadar jadi memanjakan anak. Intinya, jalinan kekeluargaan orang tua dan anak melintasi situasi dan kondisi serta kerinduan itu begitu tampaknya.

Terima kasih ibu untuk kering-tempe atau srundeng keong yang sudah dititipkan ayah. Maafkan aku ayah jika ada beberapa potong rindumu yang saya sambut dingin dan tanpa karangan bunga diwajahku.   

Warung Belajar

Beberapa minggu lalu saya sepakat dengan istri memanfaatkan garasi untuk membuka warung kelontong. Warung kecil yang menyediakan kebutuhan sembako dan peralatan sekolah untuk tetangga di sekitar rumah. Kami tunggui sendiri dengan menyiasati jam-buka waktu pagi sebelum berangkat kerja dan waktu sore setelah pulang kantor sampai cukup malam.

Kami memperoleh banyak pengalaman dengan berkunjungnya kalangan tetangga ke warung baru. Sedikitnya rumah kami yang terletak diujung jalan kini jadi kadang ramai sampai malam. Kami bisa belanja berita perkembangan warga desa dari informasi yang dipasok tetangga yang mampir belanja. Juga mulai mengerti bahwa mengembangkan jiwa wirausaha tidak boleh bersikap pantang menyerah.

Dibenak saya timbul kembali nasehat orang tua sewaktu saya mau melempar sauh berumah tangga. "Urip bebrayan kuwe aja wedi kesel karo isin (hidup berkeluarga itu jangan takut repot dan malu)," katanya saat itu. Sepanjang hidup memang tidak pernah saya melihat ayah dan ibu mudah menyerah dan menangisi segala takdir yang terkadang berat sekalipun.

Saya meresapi kalimat orang tua. Tidak sadar, anak-anak ternyata sedang memperhatikan pula apa-apa yang kami lakukan saat beraktivitas di warung.

Suatu kali anak-anak jadi sangat betah dirumah. Biasanya sepulang sekolah ia bergegas ganti baju dan berhambur dengan kawan-kawan peer-group. Kadang pula menghabiskan membaca majalah atau menonton tv. Tapi kali ini tidak!

Ia bilang mau menunggu warung. Mula-mula belajar cara menimbang dan membungkusi gula pasir. Kemmudian ia melayani temen-temen yang beli jajan. Ia pun menghitung receh pengembalian. Asyik juga sepertinya. Tidak terbayangkan respon positif anak-anak atas aktivitas usaha dirumah.

Kami jadi sangat gembira. Aktivitas berjualan baru menghasilkan tambahan penghasilan. Namun keuntungan terbesar kami adalah kesempatan anak-anak yang belajar berhitung matematika harian, menimbang dengan adil, melatih sabar dengan menunggu serta tumbuh tidak pemalu. Semoga mereka menyadari pula bahwa setiap rupiah yang dikumpulkan merupakan hasil kerja keras yang harus ditabung dan dibelanjakan dengan bijaksana.