Saya baru takziah melepas kawan dan senior yang pernah bekerjasama satu kantor. Almarhum adalah seorang pekerja keras, pendiam, dan sangat loyal. setidaknya testimoni dinas secara resmi disampaikan dihadapan pelayat maupun bisik-bisik kawan yang hadir pula jelang pemakaman. Saya mengamini.
Seorang sepuh yang mewakili keluarga kemudian memberikan ucapan pamitan. "Saudara saya dan kawan bapak-ibu semua telah berpulang. Dia adalah titipan yang tadi malam dengan baik-baik telah diambil kembali oleh pemiliknya. Pemiliknya adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia tidak kuasa menolak. Mari lepas kepergiannya kembali dengan hati yang bersih." Semua pelayat menunduk dan diam.
Setiap catatan akhir pada acara takziah selalu menarik buat saya. Tentu, menemui keluarga dan berusaha turut menguatkan dalam keadaan duka serta bertemu kembali dengan kolega-kolega dari berbagai generasi adalah hal menarik lainnya.
Ikhwal kesadaran manusia sebagai titipan-akhirat menurut saya penting. Hal ini memberi daya lentur supaya manusia tidak jumawa. Bahwa sebenarnya direlung terdalam kepemilikannya atas hidup dan segala kehidupan dunia, manusia ada pemiliknya. Manusia paling kaya sekalipun dengan segenap kehidupan yang dimilikinya tetaplah tidak luput dari kepunyaan Tuhan sebagai pemegang Hak Milik.
Apa yang harus diberikan kembali pada Sang Pemilik?
Kita harus mengembalikan diri kita seutuhnya bersih seperti saat bayi dilahirkan. Badan, pikiran dan qolbu yang kotor mungkin membuat kecewa Sang Pemilik. Tidak etis mengembalikan sesuatu kepada orang lain dengan keadaan yang seperti sedia kala atau lebih baik. Demikian pula, tidak patut rasanya kita sowan atau kembali pada Sang Pemilik dengan keadaan kotor apalagi dengan hati yang sudah sobek-sobek.
Ya Robbi... Tak kuasa aku bertasbih bagai malaikat. Tapi aku pun takut terjatuh direlung maksiat.
Selamat jalan, kawanku Muftisalim!
Seorang sepuh yang mewakili keluarga kemudian memberikan ucapan pamitan. "Saudara saya dan kawan bapak-ibu semua telah berpulang. Dia adalah titipan yang tadi malam dengan baik-baik telah diambil kembali oleh pemiliknya. Pemiliknya adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia tidak kuasa menolak. Mari lepas kepergiannya kembali dengan hati yang bersih." Semua pelayat menunduk dan diam.
Setiap catatan akhir pada acara takziah selalu menarik buat saya. Tentu, menemui keluarga dan berusaha turut menguatkan dalam keadaan duka serta bertemu kembali dengan kolega-kolega dari berbagai generasi adalah hal menarik lainnya.
Ikhwal kesadaran manusia sebagai titipan-akhirat menurut saya penting. Hal ini memberi daya lentur supaya manusia tidak jumawa. Bahwa sebenarnya direlung terdalam kepemilikannya atas hidup dan segala kehidupan dunia, manusia ada pemiliknya. Manusia paling kaya sekalipun dengan segenap kehidupan yang dimilikinya tetaplah tidak luput dari kepunyaan Tuhan sebagai pemegang Hak Milik.
Apa yang harus diberikan kembali pada Sang Pemilik?
Kita harus mengembalikan diri kita seutuhnya bersih seperti saat bayi dilahirkan. Badan, pikiran dan qolbu yang kotor mungkin membuat kecewa Sang Pemilik. Tidak etis mengembalikan sesuatu kepada orang lain dengan keadaan yang seperti sedia kala atau lebih baik. Demikian pula, tidak patut rasanya kita sowan atau kembali pada Sang Pemilik dengan keadaan kotor apalagi dengan hati yang sudah sobek-sobek.
Ya Robbi... Tak kuasa aku bertasbih bagai malaikat. Tapi aku pun takut terjatuh direlung maksiat.
Selamat jalan, kawanku Muftisalim!