Senin, 19 Maret 2012

Warung Belajar

Beberapa minggu lalu saya sepakat dengan istri memanfaatkan garasi untuk membuka warung kelontong. Warung kecil yang menyediakan kebutuhan sembako dan peralatan sekolah untuk tetangga di sekitar rumah. Kami tunggui sendiri dengan menyiasati jam-buka waktu pagi sebelum berangkat kerja dan waktu sore setelah pulang kantor sampai cukup malam.

Kami memperoleh banyak pengalaman dengan berkunjungnya kalangan tetangga ke warung baru. Sedikitnya rumah kami yang terletak diujung jalan kini jadi kadang ramai sampai malam. Kami bisa belanja berita perkembangan warga desa dari informasi yang dipasok tetangga yang mampir belanja. Juga mulai mengerti bahwa mengembangkan jiwa wirausaha tidak boleh bersikap pantang menyerah.

Dibenak saya timbul kembali nasehat orang tua sewaktu saya mau melempar sauh berumah tangga. "Urip bebrayan kuwe aja wedi kesel karo isin (hidup berkeluarga itu jangan takut repot dan malu)," katanya saat itu. Sepanjang hidup memang tidak pernah saya melihat ayah dan ibu mudah menyerah dan menangisi segala takdir yang terkadang berat sekalipun.

Saya meresapi kalimat orang tua. Tidak sadar, anak-anak ternyata sedang memperhatikan pula apa-apa yang kami lakukan saat beraktivitas di warung.

Suatu kali anak-anak jadi sangat betah dirumah. Biasanya sepulang sekolah ia bergegas ganti baju dan berhambur dengan kawan-kawan peer-group. Kadang pula menghabiskan membaca majalah atau menonton tv. Tapi kali ini tidak!

Ia bilang mau menunggu warung. Mula-mula belajar cara menimbang dan membungkusi gula pasir. Kemmudian ia melayani temen-temen yang beli jajan. Ia pun menghitung receh pengembalian. Asyik juga sepertinya. Tidak terbayangkan respon positif anak-anak atas aktivitas usaha dirumah.

Kami jadi sangat gembira. Aktivitas berjualan baru menghasilkan tambahan penghasilan. Namun keuntungan terbesar kami adalah kesempatan anak-anak yang belajar berhitung matematika harian, menimbang dengan adil, melatih sabar dengan menunggu serta tumbuh tidak pemalu. Semoga mereka menyadari pula bahwa setiap rupiah yang dikumpulkan merupakan hasil kerja keras yang harus ditabung dan dibelanjakan dengan bijaksana.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar