Minggu, 17 Februari 2013

Kulit Jambu

Ketika mengamati pohon jambu biji di kebun samping rumah. Saya melihat kulit pohon jambu yang disukai anak-anak itu terkelupas. Serpihan kulitnya tipis dan kering. Sementara dilapisan lebih dalam telah tumbuh kulit yang lebih kuat, tebal dan berwarna lebih segar. Saya memperoleh pemahaman, bahwa tiada perkembangan tanpa pertumbuhan, atau sebaliknya. Seperti pohon jambu yang 'memilih' tumbuh dan berkembang berarti bersedia dirinya melepas sel-sel kulit yang sudah sesak, usang dan tidak cukup mewadahi perkembangan dirinya.

Saat anak-anak sakit, saya dan isteri begitu dicekam rasa takut. Rasa bersalah berubah menjadi rasa marah yang melebar dan melukai siapa saja secara gelap. Pasangan adalah orang pertama yang diserang. Kemudian anak-anak. Anak sakit pun turut jadi korban. Saya pernah menginterogasi dengan pertanyaan: di sekolah jajan apa, bagaimana tidur siang, bermain dimana saja kemarin, makan siang selepas sekolah mungkin terlambat, dst.

Makin pertanyaan keras dan berdesingan persoalan tidak kunjung selesai. Anak pun secara psikologis makin terdesak dan berubah resisten. Ia diam namun sedang menyiagakan diri seperti tank tempur yang siap menyerang balik dengan cara yang lebih dahsyat.

Saya menyadari kesalahan saya. Anak anak yang sakit semestinya prioritas yang harus didahulukan, diberikan kenyamanan dan jaminan pengobatan. Ia secara fisik dan psikis harus dibikin nyaman dan aman. Lebih baik saya mendekap hangat, memberikan pijatan dan meramu beberapa tumbuhan herbal. Kalau sakit belum kunjung reda saya bawa ke bu bidan. Kalau belum menurun si anak saya bawa ke mantri atau puskesmas. Saya menemukan berkali-kali kejadian anak sakit yang langsung di bawa kedokter memperoleh resep dokter dengan dosis yang cukup tinggi, sehingga herbal, obat bidan atau matri atau puskesmas tidak mempan lagi.

Namun ada hal lain saat anak-anak sakit. Kini saya paham bahwa anak pun bagai pohon yang dikenai hukum pertumbuhan dan perkembangan. Dimana sakit yang melahirkan rasa perih baik ringan maupun berat, baik disadari maupun tidak, sesungguhnya resiko dari pertumbuhannya. Jadi, saat anak sakit orang tua tidak perlu panik dan bersikap menyalahkan orang lain bahkan anak sendiri, namun dengan tetap awas dan hati-hati, sadari pula bahwa kesakitan merupakan efek pertumbuhan karena buah hati tengah mekar dan berkembang.

Senin, 11 Februari 2013

Anakku Seorang Menteri

Sewaktu kecil saya dapat tugas rutin dirumah tangga. Pertama, tugas membuka dan menutup daun jendela rumah. Di kampung ada kebiasaan bila waktu maghrib (sandikala) tiba rumah harus tertutup dan anak-anak terutama tidak boleh keluar. Waktu-waktu petang orang tua mengharuskan anak-anak ngaji, belajar, bikin PR, makan malam. Tayangan TV masih hitam putih dengan satu channel jadi acara menarik pun tidak tampil setiap hari. Kebiasaan ini tidak terasa menjadi mirip 'jambesi', yakni jam belajar rutin dan wajib anak-anak atau siswa. Kearifan lokal (local wisdom) masyarakat desa yang diterapkan bapak ternyata futuristik.

Kebiasaan lain tentang waktu adalah jam bangun pagi yang tidak boleh melebihi matahari terbit, bahkan idealnya anak-anak biasa bangun waktu subuh selepas 'jago kluruk'. Kata ayah, Kalau kita bangun kesiangan nanti 'rejeki'-nya berkurang atau habis karena sudah dipatuk ayam. Ehm, setelah dewasa saya menyadari bahwa orang tua menggunakan tradisi itu guna mendidik anak-anak disiplin bangun pagi. Alam pikiran bapak begini, siapapun yang bangun lebih awal maka ia berkesempatan mempersioapkan segala sesuatu longgar dan lebih baik. Mengejar waktu tidak hanya ditempuh dengan cara berlari cepat tapi bisa dengan berangkat lebih awal tanpa harus kebut-kebutan, katanya.

Kedua, tugas menyapu halaman depan dan kebun belakang. Pekerjaan ini hanya sekali sehari dan sangat situasional. Artinya kalau cuaca dan waktu yang bersahabat pagi ya halaman disapu pagi, tapi kalau waktu yang cerah dan longgar sore berarti pekerjaan ini saya kerjakan sore. Saya harus mempertimbangkan dan mengatur pekerjaan dengan saat-saat bermain. Saya diberi kebebasan untuk mendahulukan bermain atau pekerjaannya. Saya sering memilih pekerjaan selesai dulu, baru bermain sepak bola di lapangan atau layang-layang di pematang sawah. 

Saat ayah memberiku tugas rutin membersihkan halaman ternyata ada pesan penting yang tersurat. Yakni belajar kesabaran. Menyapu tidak bisa 'grusa-grusu' dan serampangan nanti hasilnya tidak bersih. Bahkan dikalangan orang tua ada 'ancaman sosial' yakni, kalau menyapu tidak bersih kelak dapat istri/suami tidak cantik/gagah. Dikalangan masyarakat Jawa setiap tugas orang tua selalu mengandung ajaran dan anak memetik hikmah pesan moral diwaktu kemudian.

Waktu pun mengalir, saat ini saya sudah berganti peran menjadi ayah. Belajar dari kearifan ayah, aku menjadikan anak-anak sebagai menteri-menteri yang membidangi urusan tertentu. Menteri Perlampuan yang bertugas menyalakan dan mematikan lampu serta melaporkan posisi rekening listrik. Menteri Kebersihan yang bertugas menata alat-alat bermain yang masih tercecer dan menyapu rumah. Menteri Peternakan dan Perikanan yang bertugas menyiram tanaman sayur dan memberi makanan ikan di kolam dan ternak di kandang. Menteri Baju dan Seterika. Saya Presiden merangkap Menteri Transportasi dan Angkat Junjung. Istri saya, ibu negara merangkap Menteri Keuangan dan Pengolahan Makanan.

Mereka dapat saling bertukar peran secara periodik maupun saat-saat khusus. Tugas kementerian merupakan tugas tambahan. Mereka punya tugas pokok masing-masing. Diantaranya adalah merapikan tempat tidur, menjaga property-nya sendiri dan mempersiapkan sekolah. Wow, anakku sudah jadi menteri pada usia yang begitu belia!
 

Rabu, 06 Februari 2013

Panitia Kecil

Setiap pagi, kecuali hari minggu atau libur, saya dan istri seperti berlari cepat. Mencek anak-anak berkemas sekolah, menyiapkan sarapan dan mengantarnya ke sekolah. Sejauh ini, tidak ada satu hari pun yang mulus sesuai rencana. Selalu ada insiden kecil, tapi asyik dan menghibur.

Misalnya, ketika kami bangun cukup pagi ternyata kelupaan jarum regulator gas menunjuk warna merah, habis dan harus buru-buru ke warung. Saat semua sudah nyaris siap berangkat tiba-tiba sang kakak meledek adiknya dan pecahlah seluruh persiapan. Ketika anak-anak sudah memasuki gerbang sekolah dan nyaris sempurna, tiba-tiba seorang mundur teratur dengan muka merah. Ia baru ingat kalau hari itu ada tugas membawa tanaman untuk penghijauan yang kelupaan.

Tidak semua permasalahan pagi-pagi akibat anak-anak. Kami orang tua kadang menyumbang persoalan tertentu sebab ada masalah rumah tangga yang belum kelar dan tuntas. Tapi untuk hal terakhir tersebut, anak-anak hampir tidak pernah tahu, sekalipun skalanya besar dan kritis. Kami ingin memberikan suasana keluarga yang harmonis dan indah supaya anak-anak serasa nyaman dan bahagia. Anak-anak adalah waktu-emas untuk bermain dan belajar. Kami membiarkan mereka tumbuh-kembang secara berkualitas, namun sesuai tahapan usianya, seperti yang mereka kehendaki.

Kalau ritual acara pemberangkatan sekolah anak-anak selesai dan lancar, kami sangat lega. Detik-detik terakhir tersisa sangat pendek. Kami berkemas cepat dan seperlunya. Kini saatnya saya dan istri berboncengan berangkat kerja.

Walau sibuk serasa berlari dan repot luar biasa menjadi "panitia kecil" setiap pagi tapi kami bahagia rasanya.