Sewaktu kecil saya dapat tugas rutin dirumah tangga. Pertama, tugas membuka dan menutup daun jendela rumah. Di kampung ada kebiasaan bila waktu maghrib (sandikala) tiba rumah harus tertutup dan anak-anak terutama tidak boleh keluar. Waktu-waktu petang orang tua mengharuskan anak-anak ngaji, belajar, bikin PR, makan malam. Tayangan TV masih hitam putih dengan satu channel jadi acara menarik pun tidak tampil setiap hari. Kebiasaan ini tidak terasa menjadi mirip 'jambesi', yakni jam belajar rutin dan wajib anak-anak atau siswa. Kearifan lokal (local wisdom) masyarakat desa yang diterapkan bapak ternyata futuristik.
Kebiasaan lain tentang waktu adalah jam bangun pagi yang tidak boleh melebihi matahari terbit, bahkan idealnya anak-anak biasa bangun waktu subuh selepas 'jago kluruk'. Kata ayah, Kalau kita bangun kesiangan nanti 'rejeki'-nya berkurang atau habis karena sudah dipatuk ayam. Ehm, setelah dewasa saya menyadari bahwa orang tua menggunakan tradisi itu guna mendidik anak-anak disiplin bangun pagi. Alam pikiran bapak begini, siapapun yang bangun lebih awal maka ia berkesempatan mempersioapkan segala sesuatu longgar dan lebih baik. Mengejar waktu tidak hanya ditempuh dengan cara berlari cepat tapi bisa dengan berangkat lebih awal tanpa harus kebut-kebutan, katanya.
Kedua, tugas menyapu halaman depan dan kebun belakang. Pekerjaan ini hanya sekali sehari dan sangat situasional. Artinya kalau cuaca dan waktu yang bersahabat pagi ya halaman disapu pagi, tapi kalau waktu yang cerah dan longgar sore berarti pekerjaan ini saya kerjakan sore. Saya harus mempertimbangkan dan mengatur pekerjaan dengan saat-saat bermain. Saya diberi kebebasan untuk mendahulukan bermain atau pekerjaannya. Saya sering memilih pekerjaan selesai dulu, baru bermain sepak bola di lapangan atau layang-layang di pematang sawah.
Saat ayah memberiku tugas rutin membersihkan halaman ternyata ada pesan penting yang tersurat. Yakni belajar kesabaran. Menyapu tidak bisa 'grusa-grusu' dan serampangan nanti hasilnya tidak bersih. Bahkan dikalangan orang tua ada 'ancaman sosial' yakni, kalau menyapu tidak bersih kelak dapat istri/suami tidak cantik/gagah. Dikalangan masyarakat Jawa setiap tugas orang tua selalu mengandung ajaran dan anak memetik hikmah pesan moral diwaktu kemudian.
Waktu pun mengalir, saat ini saya sudah berganti peran menjadi ayah. Belajar dari kearifan ayah, aku menjadikan anak-anak sebagai menteri-menteri yang membidangi urusan tertentu. Menteri Perlampuan yang bertugas menyalakan dan mematikan lampu serta melaporkan posisi rekening listrik. Menteri Kebersihan yang bertugas menata alat-alat bermain yang masih tercecer dan menyapu rumah. Menteri Peternakan dan Perikanan yang bertugas menyiram tanaman sayur dan memberi makanan ikan di kolam dan ternak di kandang. Menteri Baju dan Seterika. Saya Presiden merangkap Menteri Transportasi dan Angkat Junjung. Istri saya, ibu negara merangkap Menteri Keuangan dan Pengolahan Makanan.
Mereka dapat saling bertukar peran secara periodik maupun saat-saat khusus. Tugas kementerian merupakan tugas tambahan. Mereka punya tugas pokok masing-masing. Diantaranya adalah merapikan tempat tidur, menjaga property-nya sendiri dan mempersiapkan sekolah. Wow, anakku sudah jadi menteri pada usia yang begitu belia!
Kebiasaan lain tentang waktu adalah jam bangun pagi yang tidak boleh melebihi matahari terbit, bahkan idealnya anak-anak biasa bangun waktu subuh selepas 'jago kluruk'. Kata ayah, Kalau kita bangun kesiangan nanti 'rejeki'-nya berkurang atau habis karena sudah dipatuk ayam. Ehm, setelah dewasa saya menyadari bahwa orang tua menggunakan tradisi itu guna mendidik anak-anak disiplin bangun pagi. Alam pikiran bapak begini, siapapun yang bangun lebih awal maka ia berkesempatan mempersioapkan segala sesuatu longgar dan lebih baik. Mengejar waktu tidak hanya ditempuh dengan cara berlari cepat tapi bisa dengan berangkat lebih awal tanpa harus kebut-kebutan, katanya.
Kedua, tugas menyapu halaman depan dan kebun belakang. Pekerjaan ini hanya sekali sehari dan sangat situasional. Artinya kalau cuaca dan waktu yang bersahabat pagi ya halaman disapu pagi, tapi kalau waktu yang cerah dan longgar sore berarti pekerjaan ini saya kerjakan sore. Saya harus mempertimbangkan dan mengatur pekerjaan dengan saat-saat bermain. Saya diberi kebebasan untuk mendahulukan bermain atau pekerjaannya. Saya sering memilih pekerjaan selesai dulu, baru bermain sepak bola di lapangan atau layang-layang di pematang sawah.
Saat ayah memberiku tugas rutin membersihkan halaman ternyata ada pesan penting yang tersurat. Yakni belajar kesabaran. Menyapu tidak bisa 'grusa-grusu' dan serampangan nanti hasilnya tidak bersih. Bahkan dikalangan orang tua ada 'ancaman sosial' yakni, kalau menyapu tidak bersih kelak dapat istri/suami tidak cantik/gagah. Dikalangan masyarakat Jawa setiap tugas orang tua selalu mengandung ajaran dan anak memetik hikmah pesan moral diwaktu kemudian.
Waktu pun mengalir, saat ini saya sudah berganti peran menjadi ayah. Belajar dari kearifan ayah, aku menjadikan anak-anak sebagai menteri-menteri yang membidangi urusan tertentu. Menteri Perlampuan yang bertugas menyalakan dan mematikan lampu serta melaporkan posisi rekening listrik. Menteri Kebersihan yang bertugas menata alat-alat bermain yang masih tercecer dan menyapu rumah. Menteri Peternakan dan Perikanan yang bertugas menyiram tanaman sayur dan memberi makanan ikan di kolam dan ternak di kandang. Menteri Baju dan Seterika. Saya Presiden merangkap Menteri Transportasi dan Angkat Junjung. Istri saya, ibu negara merangkap Menteri Keuangan dan Pengolahan Makanan.
Mereka dapat saling bertukar peran secara periodik maupun saat-saat khusus. Tugas kementerian merupakan tugas tambahan. Mereka punya tugas pokok masing-masing. Diantaranya adalah merapikan tempat tidur, menjaga property-nya sendiri dan mempersiapkan sekolah. Wow, anakku sudah jadi menteri pada usia yang begitu belia!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar