Minggu, 22 Juli 2018

MBAWON



Menatap hamparan bulir padi padat kuning keemasan siap panen. Lalu wajahmu disiram cahaya matahari pagi yang hangat. Disapu angin sepoi yang lembut. Wow. Serasa mereguk suasana surgawi!

Musim panen. Ya, ketika para petani memetik padi menguning adalah suasana paling menggembirakan. Di kampungku, peristiwa ramai-ramai memetik padi, merontok bulir gabah dan membawanya pulang ke rumah pemilik dinamakan "mbawon".

Dahulu, sewaktu saya kecil. Memetik padi itu dari ujung tangkai. Memakai alat tradisional yang disebut "ani-ani". Perlu jemari lincah agar tidak tergores pisau ani-ani yang tajam saat memetik setangkai demi setangkai padi. Karena itu, wajah musim panen, hampir-hampir pemandangan tentang kesibukan perempuan di sawah.

Ani-ani menghasilkan padi masih bertangkai. Untuk melepaskan bulirnya  perlu digebug dengan "blukang", potongan pelepah kelapa basah. Bila cuma sedikit, cukup digilas dengan kaki telanjang. Barulah dihasilkan bulir padi siap jemur.
Sementara, tangkai padi yang disebut "ambyang" dipisahkan dan dibuang beserta padi "gabug" (gabah tanpa isi). Ambyang kering bisa dibuat pengganti kayu bakar saat memasak. Mirip dengan fungsi sekam atau kulit padi (merang) di perapian atau pawon.

Teknik memanen padi tiap dekade berkembang. Aktivitas mbawon pun beralih dari ani-ani ke cara "gepyok". Teknik ini makin mengandalkan tenaga. Dan peran perempuan di sektor pertanian pun makin marjinal.

Saya masih ingat cara gepyok. Batang padi tua dipotong dengan sabit tajam. Pilih bagian pangkal. Setelah cukup banyak, genggam batang jerami erat-erat sesampainya. Lantas ayun ke langit dan sabetkan berulang keras-keras pada papan kayu atau bambu. Mak broll .. broll...broll, rontoklah gabah dari tangkainya.

Papan begini namanya "babragan" atau "gebyag". Makin lebar dan kekar jemaat kita, makin besar pula genggaman gepyok dan banyak bulir padi yang akan rontok. Kini, mbawon bisa lebih cepat lagi setelah populer dipakai mesin perontok padi.

Berapa upah tenaga mbawon? Tiap tempat sedikit beda. Umumya sepersepuluh gabah kering panen. Artinya, bila mbawon dapat satu ton, maka pemilik akan mengupah tenaga mbawon 100 kg gabah. Jumlah ini lantas dibagi rata anggota kelompok untuk dibawa pulang. Dengan mesin perontok, tenaga mbawon sehari bisa memperoleh upah lebih banyak. Bisa dua kali lipatnya.

Oh, ya. Di sekeliling aktivitas orang-orang yang sedang gepyok disawah akan datang bermunculan orang "ngasag". Mereka itu pemungut bulir padi dari sisa gepyok yang tidak bersih. Cara ngasag, jerami di-"kethik", ditepuk-tepuk diatas alas. Misalnya, tampah bambu. Nanti, sisa gabah akan berjatuhan diatas alas.

Ada yang bikin pilu tiap panen: kisaran harga gabah kering panen hampir ajeg! Petani jarang memperoleh harga jual tinggi. Keuntungan selalu lebih banyak diperoleh  tengkulak. Rata-rata harga gabah hanya setengah dari harga beratnya. Harga gabah kualitas ngasag jauh lebih murah!

Mbawon tidak cuma gepyok. Banyak blok persawahan yang berada jauh dari pemukiman. Sehingga usai gepyok, tenaga mbawon harus memanggul gabah hasil panen ke rumah pemilik sawah. Beratus-ratus meter jauhnya. Memikul atau memanggul gabah dalam kantong dan melewati pematang tanah berkelok. Ini disebut "nyonggah" .

Mempersembahkan sebulir gabah  itu penuh perjuangan. Dan petani masih berdiri ditepi surga.








Selasa, 17 Juli 2018

MIJAH

Pada sepotong sore. Air Sungai Parakan Kecamatan Purwanegara mengalir setinggi lutut. Tidak keruh. Tidak pula jernih. Langit sore musim kemarau bulan juli, bagai  disapu, sangat cerah.

Dibawah rindang daun bambu. Tampak kolam-kolam batu di tepi kanan-kiri sungai. Tersusun rapi dari batu kali ukuran besar hingga kecil. Bentuk kolamnya oval. Mirip kolam taman diperumahan. Banyak berjejer. Sporadis.

Kolam batu ini bukan taman. Tapi perangkap ikan. Istilah lokalnya disebut "Mijah". Secara tradisional penduduk ditepi di sungai  Serayu,  sungai Sapi atau sungai Parakan di Banjarnegara, memanfaatkannya untuk memanen ikan sungai. Ikan-ikan sungai dikenal citarasanya lebih segar dan gurih.

Bagaimana membikin kolam mijah?

Kolam perangkap yang kokoh, perlu batu besar agar kolam tidak roboh diseret arus. Lalu untuk menjadikan rapi dan rapat, disusun batu lebih kecil diatasnya. Biasa dikerjakan sehari penuh oleh dua orang dewasa. Apabila susunan diantara batu masih berlubang, disumpalkan klaras (daun pisang kering) agar benar-benar rapat.

Kolam mijah memiliki 2-3 mulut lubang. Diletakkan searah arus sungai. Mulut ini tempat memasang wuwu, nama perangkap ikan dari anyaman bambu. Wuwu inilah yang mewadahi ikan-ikan yang terperangkap. Terutama ikan-ikan yang bermaksud hendak bertelur dan menempelkannya sisi bagian dalam batu-batu kolam.

Memasang wuwu tidak boleh terbalik. Perangkap ini dipasang didasar lubang. Kemudian ditindih dengan batu. Lalu disusupi klaras hingga rapat. Ditindih batu lagi hingga rata punggung kolam. Terakhir, punggung kolam ditutup dengan bleketepe atau daun pohon nira yang dianyam. Ada pula mijah yang dibiarkan terbuka.

Oh, ya. Air didalam kolam diusahakan cukup semata kaki. Dan bersih. Kadang diperlukan mengatur bendungan batu untuk mengatur ketinggian arus. Perilaku ikan bertelur umumnya tidak menyukai tempat yang kotor dan berarus deras.

Tradisi dan keahlian mijah oleh penduduk kebanyakan diperoleh secara otodidak. Turun temurun dari ayahnya. Atau kakeknya. Sodikin, misalnya, warga Desa Mertasari belajar memijah sejak usia belasan. Ketika itu, ia suka nginthil ayahnya mijah. Hingga usia sepuh, hobby mijah dengan setia dijalani.

Sepotong sore kemarin, kakek sepuh ini sigap ucul-ucul klambi. Byurr.. Lalu turun ke sungai. Kaki tuanya masih lincah. Telapaknya yang keriputnya begitu hafal memilih batu pijakan dikedalaman sungai. Lengan tipisnya terampil memasang wuwu.

Begitu pula saat membongkar wuwu. Ditengah malam. Gelap. Hampir  tiada ragu menahan  dingin.

Apabila Dewa Keberuntungan memihaknya, satu kolam mijah dalam semalam bisa menangkap lebih dari 10 kg ikan. Jenis paling banyak adalah ikan brek (sejenis ikan tawes kali). Warna sisiknya keperakan. Rasanya gurih nylekamin bila digoreng kering. Juga mangut (sejenis ikan melem kali). Harganya lumayan. Sekitar Rp 35 ribu-100 ribu/kg.

Namun, hidup itu tidak selamanya beruntung. Tidak jarang pula mijah setengah malam hanya zonk. Alias kosong.