Menatap hamparan bulir padi padat kuning keemasan siap panen. Lalu wajahmu disiram cahaya matahari pagi yang hangat. Disapu angin sepoi yang lembut. Wow. Serasa mereguk suasana surgawi!
Musim panen. Ya, ketika para petani memetik padi menguning adalah suasana paling menggembirakan. Di kampungku, peristiwa ramai-ramai memetik padi, merontok bulir gabah dan membawanya pulang ke rumah pemilik dinamakan "mbawon".
Dahulu, sewaktu saya kecil. Memetik padi itu dari ujung tangkai. Memakai alat tradisional yang disebut "ani-ani". Perlu jemari lincah agar tidak tergores pisau ani-ani yang tajam saat memetik setangkai demi setangkai padi. Karena itu, wajah musim panen, hampir-hampir pemandangan tentang kesibukan perempuan di sawah.
Ani-ani menghasilkan padi masih bertangkai. Untuk melepaskan bulirnya perlu digebug dengan "blukang", potongan pelepah kelapa basah. Bila cuma sedikit, cukup digilas dengan kaki telanjang. Barulah dihasilkan bulir padi siap jemur.
Sementara, tangkai padi yang disebut "ambyang" dipisahkan dan dibuang beserta padi "gabug" (gabah tanpa isi). Ambyang kering bisa dibuat pengganti kayu bakar saat memasak. Mirip dengan fungsi sekam atau kulit padi (merang) di perapian atau pawon.
Teknik memanen padi tiap dekade berkembang. Aktivitas mbawon pun beralih dari ani-ani ke cara "gepyok". Teknik ini makin mengandalkan tenaga. Dan peran perempuan di sektor pertanian pun makin marjinal.
Saya masih ingat cara gepyok. Batang padi tua dipotong dengan sabit tajam. Pilih bagian pangkal. Setelah cukup banyak, genggam batang jerami erat-erat sesampainya. Lantas ayun ke langit dan sabetkan berulang keras-keras pada papan kayu atau bambu. Mak broll .. broll...broll, rontoklah gabah dari tangkainya.
Papan begini namanya "babragan" atau "gebyag". Makin lebar dan kekar jemaat kita, makin besar pula genggaman gepyok dan banyak bulir padi yang akan rontok. Kini, mbawon bisa lebih cepat lagi setelah populer dipakai mesin perontok padi.
Berapa upah tenaga mbawon? Tiap tempat sedikit beda. Umumya sepersepuluh gabah kering panen. Artinya, bila mbawon dapat satu ton, maka pemilik akan mengupah tenaga mbawon 100 kg gabah. Jumlah ini lantas dibagi rata anggota kelompok untuk dibawa pulang. Dengan mesin perontok, tenaga mbawon sehari bisa memperoleh upah lebih banyak. Bisa dua kali lipatnya.
Oh, ya. Di sekeliling aktivitas orang-orang yang sedang gepyok disawah akan datang bermunculan orang "ngasag". Mereka itu pemungut bulir padi dari sisa gepyok yang tidak bersih. Cara ngasag, jerami di-"kethik", ditepuk-tepuk diatas alas. Misalnya, tampah bambu. Nanti, sisa gabah akan berjatuhan diatas alas.
Ada yang bikin pilu tiap panen: kisaran harga gabah kering panen hampir ajeg! Petani jarang memperoleh harga jual tinggi. Keuntungan selalu lebih banyak diperoleh tengkulak. Rata-rata harga gabah hanya setengah dari harga beratnya. Harga gabah kualitas ngasag jauh lebih murah!
Mbawon tidak cuma gepyok. Banyak blok persawahan yang berada jauh dari pemukiman. Sehingga usai gepyok, tenaga mbawon harus memanggul gabah hasil panen ke rumah pemilik sawah. Beratus-ratus meter jauhnya. Memikul atau memanggul gabah dalam kantong dan melewati pematang tanah berkelok. Ini disebut "nyonggah" .
Mempersembahkan sebulir gabah itu penuh perjuangan. Dan petani masih berdiri ditepi surga.


