Selasa, 17 Juli 2018

MIJAH

Pada sepotong sore. Air Sungai Parakan Kecamatan Purwanegara mengalir setinggi lutut. Tidak keruh. Tidak pula jernih. Langit sore musim kemarau bulan juli, bagai  disapu, sangat cerah.

Dibawah rindang daun bambu. Tampak kolam-kolam batu di tepi kanan-kiri sungai. Tersusun rapi dari batu kali ukuran besar hingga kecil. Bentuk kolamnya oval. Mirip kolam taman diperumahan. Banyak berjejer. Sporadis.

Kolam batu ini bukan taman. Tapi perangkap ikan. Istilah lokalnya disebut "Mijah". Secara tradisional penduduk ditepi di sungai  Serayu,  sungai Sapi atau sungai Parakan di Banjarnegara, memanfaatkannya untuk memanen ikan sungai. Ikan-ikan sungai dikenal citarasanya lebih segar dan gurih.

Bagaimana membikin kolam mijah?

Kolam perangkap yang kokoh, perlu batu besar agar kolam tidak roboh diseret arus. Lalu untuk menjadikan rapi dan rapat, disusun batu lebih kecil diatasnya. Biasa dikerjakan sehari penuh oleh dua orang dewasa. Apabila susunan diantara batu masih berlubang, disumpalkan klaras (daun pisang kering) agar benar-benar rapat.

Kolam mijah memiliki 2-3 mulut lubang. Diletakkan searah arus sungai. Mulut ini tempat memasang wuwu, nama perangkap ikan dari anyaman bambu. Wuwu inilah yang mewadahi ikan-ikan yang terperangkap. Terutama ikan-ikan yang bermaksud hendak bertelur dan menempelkannya sisi bagian dalam batu-batu kolam.

Memasang wuwu tidak boleh terbalik. Perangkap ini dipasang didasar lubang. Kemudian ditindih dengan batu. Lalu disusupi klaras hingga rapat. Ditindih batu lagi hingga rata punggung kolam. Terakhir, punggung kolam ditutup dengan bleketepe atau daun pohon nira yang dianyam. Ada pula mijah yang dibiarkan terbuka.

Oh, ya. Air didalam kolam diusahakan cukup semata kaki. Dan bersih. Kadang diperlukan mengatur bendungan batu untuk mengatur ketinggian arus. Perilaku ikan bertelur umumnya tidak menyukai tempat yang kotor dan berarus deras.

Tradisi dan keahlian mijah oleh penduduk kebanyakan diperoleh secara otodidak. Turun temurun dari ayahnya. Atau kakeknya. Sodikin, misalnya, warga Desa Mertasari belajar memijah sejak usia belasan. Ketika itu, ia suka nginthil ayahnya mijah. Hingga usia sepuh, hobby mijah dengan setia dijalani.

Sepotong sore kemarin, kakek sepuh ini sigap ucul-ucul klambi. Byurr.. Lalu turun ke sungai. Kaki tuanya masih lincah. Telapaknya yang keriputnya begitu hafal memilih batu pijakan dikedalaman sungai. Lengan tipisnya terampil memasang wuwu.

Begitu pula saat membongkar wuwu. Ditengah malam. Gelap. Hampir  tiada ragu menahan  dingin.

Apabila Dewa Keberuntungan memihaknya, satu kolam mijah dalam semalam bisa menangkap lebih dari 10 kg ikan. Jenis paling banyak adalah ikan brek (sejenis ikan tawes kali). Warna sisiknya keperakan. Rasanya gurih nylekamin bila digoreng kering. Juga mangut (sejenis ikan melem kali). Harganya lumayan. Sekitar Rp 35 ribu-100 ribu/kg.

Namun, hidup itu tidak selamanya beruntung. Tidak jarang pula mijah setengah malam hanya zonk. Alias kosong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar