Rasanya mekar hati saya. Melihat antusiasme pendaftar bakal calon (balon) kepala desa pada Pilkades serentak di 197 desa tahun ini di Kabupaten Banjarnegara.
Bayangkan para calon: ada satu desa diminati 13 orang; ada diantaranya berpendidikan Master; ada yang mantan camat; ada yang mantan DPRD. Banyak lagi. Kira-kira hanya satu-dua desa tiap kecamatan yang lesu atau pendaftarannya belum genap.
Pilkades memang memiliki tingkat partisipasi pemilih tertinggi. Sekitar 80-85% ditiap desa. Bandingkan : Pemilu 2019 (77,50%). Atau Pilgub Jateng (68,01%). Sebab utama, barangkali, kedekatan kontestan dengan pendukungnya. Baik dekat dalam arti : jarak domisili, aspirasi maupun psikologi. Kedekatan memang mencipta greget. Membuat pesta politik 6 tahunan meriah dan bergairah di desa-desa.
Namun, bersamaan itu mengintip pula: potensi gesekan konflik sosial. Tidak sedikit, pasca Pilkades : kakak-adik, antar keluarga atau antar dusun; berseteru. Hingga jadi noda hitam suasana harmoni dan paguyuban perdesaan.
***
Antusiasme saja belum cukup. Katakanlah masih sejenis kuncup. Untuk bikin mekar sebuah kuncup Pilkades disuatu desa masih perlu dimatangkan banyak hal.
Semestinya. Ya, sudah semestinya. Berkali pemilu maupun Pilkades kita makin matang tumbuh menjadi bangsa. Diantaranya ditandai dengan mampu merawat kebinekaan yang sekaligus efektif pula memajukan daerah atau desa.
Ya, semestinya. Telah banyak bermunculan kontestan atau calon yang makin dewasa. Juga, pemilih yang makin cerdas dan bersahaja dalam berpolitik. Kelahiran pemimpin lokal yang kuat dan aspiratif. Transisi demokrasi yang tidak saja prosedural, namun menimbang aspek subtansial.
Semestinya pula. Ditengah meluasnya praktek pembelian suara melalui beragam modus politik uang (money politics) disetiap pemilu. Kita menekannya dengan serius melalui komitmen dan aksi nyata, sekuat tenaga, dalam Pilkades kali ini.
Wallahu 'alam bishawab
Bayangkan para calon: ada satu desa diminati 13 orang; ada diantaranya berpendidikan Master; ada yang mantan camat; ada yang mantan DPRD. Banyak lagi. Kira-kira hanya satu-dua desa tiap kecamatan yang lesu atau pendaftarannya belum genap.
Pilkades memang memiliki tingkat partisipasi pemilih tertinggi. Sekitar 80-85% ditiap desa. Bandingkan : Pemilu 2019 (77,50%). Atau Pilgub Jateng (68,01%). Sebab utama, barangkali, kedekatan kontestan dengan pendukungnya. Baik dekat dalam arti : jarak domisili, aspirasi maupun psikologi. Kedekatan memang mencipta greget. Membuat pesta politik 6 tahunan meriah dan bergairah di desa-desa.
Namun, bersamaan itu mengintip pula: potensi gesekan konflik sosial. Tidak sedikit, pasca Pilkades : kakak-adik, antar keluarga atau antar dusun; berseteru. Hingga jadi noda hitam suasana harmoni dan paguyuban perdesaan.
***
Antusiasme saja belum cukup. Katakanlah masih sejenis kuncup. Untuk bikin mekar sebuah kuncup Pilkades disuatu desa masih perlu dimatangkan banyak hal.
Semestinya. Ya, sudah semestinya. Berkali pemilu maupun Pilkades kita makin matang tumbuh menjadi bangsa. Diantaranya ditandai dengan mampu merawat kebinekaan yang sekaligus efektif pula memajukan daerah atau desa.
Ya, semestinya. Telah banyak bermunculan kontestan atau calon yang makin dewasa. Juga, pemilih yang makin cerdas dan bersahaja dalam berpolitik. Kelahiran pemimpin lokal yang kuat dan aspiratif. Transisi demokrasi yang tidak saja prosedural, namun menimbang aspek subtansial.
Semestinya pula. Ditengah meluasnya praktek pembelian suara melalui beragam modus politik uang (money politics) disetiap pemilu. Kita menekannya dengan serius melalui komitmen dan aksi nyata, sekuat tenaga, dalam Pilkades kali ini.
Wallahu 'alam bishawab

