Seorang kawan yang sangat peduli dengan desa kelahirannya. Jelang Pilkades serentak, memilih mengubur impian dalam-dalam. Untuk menjadi seorang kepala desa dirinya merasa tidak tega --walau memiliki cukup uang-- untuk ikut-ikutan membeli suara dalam ajang Pilkades.
***
Pemilu dan Pilkades merupakan instrumen demokrasi. Sebuah instrumen politik akan efektif menghasilkan transformasi sosial. Bila masyarakat bersedia menerima dan bersedia berubah sesuai nilai-nilai instrumen tersebut.
Politik uang yang berkembang massif dalam mekanisme pemilihan, akhir-akhir ini, bukanlah termasuk nilai unggul demokrasi. Politik uang memihak dan kolusi pada segelintir calon yang kuat secara ekonomi --sekalipun tanpa jejak sebelumnya. Polanya: menyuap pemilih untuk bisa dibeli atau dibunuh suaranya.
Demokrasi yang sehat pastilah tumbuh dengan kesadaran. Pemilih tidak dianggap sekedar angka-angka. Dan disetir dengan amplop. Berdemokrasi tidak bermakna tanpa kesadaran budayawi: marwah, memihak semua dan dialogis.
***
Lalu, apa yang bisa dilakukan? Secara dialektik, calon kuat bukan diperlawankan dengan calon yang lebih kuat. Ancaman dilawan dengan kekerasan. Atau, uang dilawan uang. Kontrol akhir praktek kekerasan dan kekuatan uang adalah dilawan dengan kekuatan moral.
Praktek pembelian suara benar-benar mendegradasi martabat manusia: dari semula manusia bebas merdeka menjadi sejenis android yang hanya berperilaku sesuai program atau aplikasi.
Kalangan pemilih yang kadung terjangkit virus money politics, kesadarannya barangkali perlu di-instal ulang. Dikembalikan sebagai manusia bayi yang fitrah. Dengan sejenis program 'kesadaran paripurna'. Yakni, sosok manusia yang tidak saja berpikir dan berperilaku dengan efisien dan efektif berdasar cara-cara ekonomis material. Namun juga, pribadi yang hidup berikut moral dan spiritualnya.
Wallahu'alam bishawab
***
Pemilu dan Pilkades merupakan instrumen demokrasi. Sebuah instrumen politik akan efektif menghasilkan transformasi sosial. Bila masyarakat bersedia menerima dan bersedia berubah sesuai nilai-nilai instrumen tersebut.
Politik uang yang berkembang massif dalam mekanisme pemilihan, akhir-akhir ini, bukanlah termasuk nilai unggul demokrasi. Politik uang memihak dan kolusi pada segelintir calon yang kuat secara ekonomi --sekalipun tanpa jejak sebelumnya. Polanya: menyuap pemilih untuk bisa dibeli atau dibunuh suaranya.
Demokrasi yang sehat pastilah tumbuh dengan kesadaran. Pemilih tidak dianggap sekedar angka-angka. Dan disetir dengan amplop. Berdemokrasi tidak bermakna tanpa kesadaran budayawi: marwah, memihak semua dan dialogis.
***
Lalu, apa yang bisa dilakukan? Secara dialektik, calon kuat bukan diperlawankan dengan calon yang lebih kuat. Ancaman dilawan dengan kekerasan. Atau, uang dilawan uang. Kontrol akhir praktek kekerasan dan kekuatan uang adalah dilawan dengan kekuatan moral.
Praktek pembelian suara benar-benar mendegradasi martabat manusia: dari semula manusia bebas merdeka menjadi sejenis android yang hanya berperilaku sesuai program atau aplikasi.
Kalangan pemilih yang kadung terjangkit virus money politics, kesadarannya barangkali perlu di-instal ulang. Dikembalikan sebagai manusia bayi yang fitrah. Dengan sejenis program 'kesadaran paripurna'. Yakni, sosok manusia yang tidak saja berpikir dan berperilaku dengan efisien dan efektif berdasar cara-cara ekonomis material. Namun juga, pribadi yang hidup berikut moral dan spiritualnya.
Wallahu'alam bishawab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar