Kamis, 29 September 2011

Rahim Suci

Tatkala istri saya mulai mengandung, Ibu memberi nasehat bernada keras. Menurut Ibu, sang jabang bayi kelak merupakan rekaan dari apa yang suami dan istri pikirkan, ucapkan dan tindakkan. Rupa batin anak adalah hasil olah spiritualitas orang tuanya ketika bocah masih dalam dekapan rahim bunda.

Mematuhi nasehat itu, berarti ayah dan bunda harus menjaga sikap terpuji dan terhormat, supaya sang buah hati pun terlahir sebagai manusia yang terpuji, cerdas dan rupawan. Sebaliknya, penyangkalan adalah awal dari petaka kelahiran anak-anak yang berpotensi masalah. Bahkan, satu tindakan tidak sengaja orang tua yang tidak dirembesi kesadaran Illahiah pun, seperti prasangka buruk tertentu, dapat menodai kelahiran anak sehingga rupa fisik atau rupa batinnya, menyerupai wujud apa yang disangkakan itu.    

Ibu saya tidak pernah resmi belajar ilmu genetika. Namun kebudayaan tempatnya bersemayam mempercayai bahwa jagat-dalam denyut rahim seorang ibu terhubung dengan jagat-luar gerak kehidupan masyarakat dikampung. Kesadaran ini mendorong orang tua terutama suami di kampung saya bersikap sangat hati-hati tatkala istrinya sedang mengandung. Kaum suami takut keweleh atau kewirangan sebab apa yang dilakukan selama istrinya hamil akan mewujud pada anak yang dilahirkan istrinya. Sang Anak adalah rekam jejak masa lalu atau kode genetik yang menceritakan setiap inchi tingkah laku orang tuanya.

Setiap ibu memiliki rahim suci. Setiap orang tua jantungnya berdegup cemas saat menanti kelahiran buah hati. Sebab jabang bayi dari rahim suci itu akan membuka tabir apa-adanya. Makhluk macam apa orang tuanya?   

Kita sekarang pun sedang telungkup dalam kandungan rahim besar kehidupan. Setiap manusia akan dilahirkan kembali, kelak di sebuah Taman Keabadian. Wujud bayi-kita nant, tentu, tidak beda jauh dengan wujud laku-kita hari ini.

Menjadi makhluk macam apa? 
Hati kecil kita sudah berbisik.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar