Sewaktu bocah, saya pernah diinterogasi ayah karena suatu hari menghabiskan uang jajan sekolah. Ayah dengan nada keras dan kata-kata tajam memaksa saya menceritakan kronologi, warung yang dikunjungi, makanan yang sudah dibeli dan teman-teman yang saya ajak menghabiskan uang. Saya menjawab satu persatu pertanyaan, dari sebelah meja. Bagai benang basah, runtuh, saya tertunduk lesu dan badan seperti sulit ditegakkan. Ayahku tidak pernah marah besar seperti ini, kecuali bila anak-anak malas belajar.
Kevin (bocah kecil pada film Home Alone) pernah pula dimarahi ayahnya karena kedapatan "merusak" properti rumahnya bagai kapal pecah, saat terpaksa melawan pencuri. Sang ayah mendorong anak pada satu sisi kamar kemudian menahan pelan sembari duduk.
"Saya bisa memahami dan memafkan kamu, tapi tidak untuk berbohong," tanya ayah lembut. Anak pun mengatakan yang sebenarnya. Sang ayah tidak berusaha menyalahkan, hanya ingin mengetahui fakta yang sebenarnya. Sang ayah tidak hendak mempermalukan dan menghukum, hanya ingin anak berkata jujur.
Sang anak pun menatap ayah dengan tegak. Dengan mental yang utuh ia ceritakan semua. Komunikasi interpersonal yang terbangun antara ayah dan anak begitu positif dan seimbang. Tidak ada kesan bahwa ayah adalah kuat dan kuasa sementara anak lemah dan tidak kuasa. Disatu sisi, tidak ada kekuasaan yang berhasrat meruntuhkan moral, sementara disisi lainnya tidak ada hasrat berbohong untuk menyelamatkan diri.
Setelah anak-anak makin besar, sikap ayahku berkembang sangat baik dan demokratis dibanyak hal. Aku pun mengerti bahwa cara ia menginterogasi dahulu diperoleh dari kakek. Itulah cara kakek menanamkan sikap kejujuran pada anak-anaknya, termasuk ayah: keras dan sepihak.
Aku sangat sependapat bahwa kejujuran adalah prinsip dan warisan budi utama yang setiap orang tua harus membekalinya pada anak-anak melalui ragam media pembelajaran, terutama awalnya di keluarga. Lebih dari itu, anak-anak adalah manusia pula yang harus diberi kesempatan setara dan dilimpahi kasih sayang. Peradaban menunjukkan bahwa jalan kekerasan gagal membentuk pribadi jujur, sekalipun ditorehkan oleh orangtua biologisnya sendiri.
Ketidakjujuran adalah tindakan yang tidak termaafkan, tapi bila kita menanamkannya dengan cara kekerasan hanyalah merusak tunas-tunas kebaikan yang kelak tumbuh besar dan berkembang kuat bersamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar