Minggu, 13 November 2011

Pekerjaan kecil

Sewaktu pulang kantor saya mendapati sepiring nasi goreng. Saya tahu waktu sarapan tadi pagi istri tidak mempersiapkan menu hangat ini. Karena sudah lapar, saya melahapnya sebagai menu makan siang. Rasanya agak aneh tapi sangat orisinal di lidah.

Malam hari kemudian saat sedang menemani anak-anak membuat PR, saya di kejutkan pertanyaan si sulung. "Ayah, nasi gorengnya enak apa enggak?" Celetuknya enteng, tanpa menoleh sibuk melanjutkan pekerjaan rumah. Saya menganggguk tapi ia memaksa bukan dengan jawaban gensture. Saya pun jawab : "Ya, mak nyoss!"

Saya baru paham kalau ia sudah bisa mempersiapkan nasi goreng. Saya pun mulai mengerti bahwa saat ia menyela ikut mengupas bawang merah, bawang putih atau memaksa coba menghaluskan bumbu didapur, sesungguhnya ia sedang belajar memasak. Dunia memasak yang identik dengan perempuan ternyata sudah dimasukinya. Ia memperoleh inspirasi pula dari tontonan khoki cilik. Sekarang ia tidak hanya dapat mempersiapkan sendiri baju sekolah tapi juga makan siangnya.

Anak saya laki-laki semua. Namun keluarga sepakat bahwa tidak ada pekerjaan berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Semua bersiap diri terlibat membantu pekerjaan di rumah, termasuk ayah pun dapat tugas memasak dan menyapu lantai.

Si sulung baru 8 tahun duduk dikelas 2 SD. Saya sangat senang ia dapat mengerjakan sendiri hal-hal kecil urusannya sendiri. Saya pun ceritakan ini pada adik-adiknya. Saya memberinya pujian : kalau anak-anak bisa hebat menyelesaikan pekerjaan kecil sendiri, maka orang tua punya banyak waktu untuk memberikan hal-hal besar bagi anak-anak.

Sejak hari itu, anak-anak melesat seperti anak panah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar