Jumat, 21 Oktober 2011

Warisan terbaik

Bagi keluarga yang tidak cukup kaya, namun memilih melanjutkan pendidikan bagi anak-anak. Property keluarga kebanyakan sudah menipis untuk biaya sekolah anak-anak. Bagi kami pun tersisa tinggal rumah dan sedikit tanah disebelahnya. Sejak sekolah dasar, ayah memang menanam pengertian supaya anak-anak dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik. 


Menurut ayah menuntut ilmu adalah tugas suci (sacrifie). Anak-anak yang rajin atau tekun belajar bagi ayah bisa disamakan dengan dengan hari-hari mulia sang ibu yang tengah mengandung atau setara dengan jerih payah seorang ayah yang mencari nafkah. Untuk mengenang dedikasinya, pada Buku Yassin 1.000 hari mengenang meninggalnya anak-anak mengukir kredonya supaya tidak lupa: "Jika ada orang yang dengan gagah dan tabah menghadapi penderitaan, sangat sederhana, dan rendah hati, serta begitu yakin bahwa warisan paling mulia adalah memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya; beliau adalah Ayah." Kalimat ini diinspirasi otobiografi Malcom-X.

Sebaliknya, warisan paling berbahaya bagi anak-anak yang diberikan orang tua adalah kebencian. Dengan tidak sadar rasa tidak suka atas sesuatu atau seseorang dapat diwariskan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Misal, saat orang tua begitu telanjang dan sisnis membicarakan profil keluarga, saudara atau tetangga. Tatkala orang tua melarang anak plihan fashion tertentu hanya karena menyerupai pribadi orang yang dibenci. Saat mereka mengatur tempat duduk pertemuan, arisan atau memilih rute perjalanan, dimana terdapat maksud menjauh dari sang lain agar terlupakan.


Setiap orang tua mestinya mewariskan setangkup sayap kasih sayang. Anak-anak perlu didorong  supaya dapat melintasi pergaulan dunia dengan leluasa. Anak-anak perlu diberi waktu terbang yang cukup supaya gugusan ide dan gejolak kenyataan yang direkamnya cukup menjadi bekal hidup mandiri. 


Semangat kasih sayang akan membalut sekujur luka antar manusia. Bagai selimut hangat yang menutup tubuh satu keluarga, satu kampung, atau satu bangsa; sehingga tidak tersisa celah satu inchi permusuhan berdarah dingin masuk. Rasa kasih sayang bersumbu pada keyakinan bahwa setiap manusia adalah entitas setara, dan karena itu antar manusia harus berdampingan satu sama lain (koeksistensi) saling mendukung pencapaian cita-cita positif masing-masing.


Masih ada warisan terbaik lainnya. Yakni mengajari anak-anak hormat kepada orang tua, guru, dan tetangga. Risalah abadi para Nabi menganjurkan supaya peradaban memuji kedudukan mereka. Mereka telah berjasa menanamkan cinta dilubuk hati. Orang tua mendekap semua anak-anak sama hangatnya. Sang guru mengajari anak-anak budi pekeri dan ketrampilan hidup mandiri. Para tetangga memagari anak-anak dari sergapan orang asing yang seperti serigala sewaktu-waktu dapat masuk desa dipinggir hutan.

Jangan biarkan kebencian mencuri hati anak-anak kita yang paling disayangi. 

Rabu, 19 Oktober 2011

Ksatria, berangkatlah...


Salam Pramuka!
Anakku yang gagah. Beberapa saat lagi kalian akan berangkat kemah pramuka. Menatapmu yang sebentar lagi akan ditelan menjadi rombongan, adalah saat yang menyentuh bagi ayah. Kalian pasti akan jauh dari ayah dan bunda. Adikmu pasti akan bertanya setiap bangun tidur besok. Kamarmu juga merindu dengan coretan pastel warna-warni.  

Anakku yang tegar. Ayah hampir tak percaya kalau kamu sesungguhnya sudah besar. Kamu sudah terpilih dengan seleksi ketat dari ratusan anak yang berasal dari puluhan siswa sekolah dasar. Berarti ayah harus menerima kenyataan bahwa kamu lebih kuat sesungguhnya dari yang ayah bayangkan. Kamu ternyata sudah tumbuh menjadi sepasukan prajurit khusus yang dipilih instruktur, para kakak pembina. Justeru ayah yang lemah, begitu  ditinggal kamu pergi kemah menjadi kanak-kanak. 
 
Anakku, ayah pernah punya perasaan seperti ini. Ketika  ibumu akan pergi kursus untuk beberapa minggu. Tapi kepergianmu saat ini lebih mengiris. Aku masih melihatmu bocah yang berat sekali menggendong rangsel. Bahkan memasang temali sepatu pun masih tertukar lubangnya. Tapi ayah harus tega melepasmu berkemah dipinggir hutan dengan kawan-kawan. Digigit udara dingin dan diimpit pekat malam. 

Sekalipun perasaan ayah tampak terlambat mengerti lompatan besar kaki mungilmu, tapi ayah ingin sekali engkau tidak menutup telinga dengan nasehatku. Simpanlah sobekan kata-kata ayah.

Pertama, ingatlah terus dengan janji suci Dasa Dharma. Bagian pertama Janji tersebut berbunyi: Taqwa kepada Tuhan YME. Karena itu, disetiap kesempatan ayah pesan, ingatlah selalu Tuhan, Allah. Ditengah alam nanti kalian jauh dari orang tua, pun tidak ditunggui terus oleh guru. Ancaman binatang buas dan jatuh sakit dapat menyelinap sewaktu-waktu. Disela waktu yang terbatas dan jadwal kegiatan yang akan padat: jangan pernah lupakan sholat! Bagi pemeluk non-muslim pun sembahyanglah dengan segenap keteguhan dan cara masing-masing. Kekuatan spiritual akan menjadi obor semangat baja.

Kedua, jaga jiwa korsa. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh; ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Jangan ada rasa tinggi hati karena diantara kalian ada yang juara kelas, anak pejabat atau saudagar. Merasa paling kaya, cantik, atau tampan. Ditengah alam dan kompetisi ketat, kalian hanya bisa selamat dengan cara disatukan oleh jiwa kebersamaan. Perbedaan melebur jadi kesatuan! 

Kalau ada kawan yang terluka, kalian bersama harus menanggung deritanya dan bersama pula mengobati. Buatlah kawan-kawanmu selalu ceria, senang, dan bergembira. Kemah ingin menyebarkan virus kegembiraan malalui permainan, kepada anak-anak. Nikmatilah bertemu kawan-kawan dari lain wilayah. Hati yang gembira adalah bekal menjalani kehidupan yang berliku dan keras dimasa depan. Kegembiraan adalah daya-hidup yang mampu menjaga manusia ke tangga suskses dan menjaganya usia berumur panjang.

Ketiga, jagalah sportivitas. Ayah sangat senang apabia kalian kelak menjadi juara. Kami sangat berterima kasih apabila piala di ruang rumah atau sekolah akan bertambah. Namun melampaui kebanggaan menjadi sang juara,  adalah kebahagiaan ayah apabila kalian menjadi kesatria yang agung yang senantiasa menjaga kejujuran disetiap pekerjaan dan perlombaan.

Sikap sportif inilah yang akan terbawa sampai kalian remaja, menjadi orang tua, menjadi pengusaha, menjadi petani, pejabat, tentara, atau apapun.Piala dan piagam akan usang dan mungkin tersingkir saking banyaknya. Tapi jiwa sportif akan menjadi bekal hidup disegala kesempatan. Inilah yang ayah lebih harapkan, sehingga menang atau kalah menjadi nomor dua, setelah urutan sikap ksatria.

Anakku, selamat berlomba dan bergembira. Berangkatlah kalian sebagai ksatria!

Selasa, 18 Oktober 2011

Dialog jeda

Bagi banyak keluarga muda modern menjaga kontinuitas dan intensitas komunikasi dengan anak-anak bukan perkara sepele. Pilihah antara karir dan domestik bisa berujung sama. Orang tua karir sering beralasan sudah menghabiskan waktu ekstra diluar rumah mencari uang atas nama masa depan anak-anak. Sementara orang tua yang domestik terlalu lelah mengerjakan rangkaian "the endless job" setiap hari dirumah sehingga mengabaikan perkembangan anak. Keduanya berpotensi membahayakan karena melemahkan sinyal komunikasi orang tua dan anak.

Salah satu cara yang bisa ditempuh untuk menjaga kualitas komunikasi adalah dengan mengagendakan dialog-jeda setiap hari. Artinya, orang tua disetiap kesempatan bertemu dengan anak harus berusaha menjadi pewawancara yang baik. Seperti saat merapikan kamar tidur, persiapan sekolah, menyampaikan uang jajan, mendampingi bikin PR, makan bersama keluarga, menunggu kursus masuk, menyiram kembang, memberi pakan ternak atau mengantar anak-anak tidur.

Hal-hal utama yang menjadi pertanyaan wajib antara lain : Apa, Dimana, dan bersama Siapa mereka bermain atau belajar. Apa yang mereka kerjakan akan memberikan informasi kepada orang tua ikhwal perkembangan dan pertumbuhan minatnya. Permainan atau pekerjaan yang sedang dilakukan bersama kawan-kawan merupakan tahap uji coba yang sedang dipersiapkan mereka sendiri. Orang tua perlu terus memantau tapi jangan terkesan memata-matai. Apalagi memunculkan kekuatiran yang berlebihan.

Dimana mereka berkumpul dan membangun aktivitas hari demi hari menjadi semacam sensor guna mendeteksi keberadaan anak-anak. Dari informasi lokasi mereka bermain, orang tua dapat mendeteksi apakah itu masih dalam zona aman atau zona bahaya. Tentu saja aman-bahaya meliputi deteksi berupa ancaman yang bersifat fisik maupun psikologis. Ancaman fisik berupa kawasan yang resiko bahayanya tidak terukur dan anak-anak dapat terluka karena kelalaian sendiri atau serangan pihak luar.

Siapa kawan-kawan mereka merupakan "peer group". Dengan mengenal kelompok bermaian anak-anak maka orang tua lebih mudah mencari referensi apabila anak-anak sedang bermasalah. Anak-anak seusianya akan menciptakan perkawanan kreatif yang solid dan saling ketergantungan.


wawancara yang produktif
Memberi jawaban lebih mudah daripada menyusun pertanyaan. Kunci wawancara adalah penghargaan. Bicaralah dengan baik supaya anak mau mendengar dan dengarkalah aspirasi mereka dengan sungguh-sungguh supaya mereka mau berbicara. Komunikasi interpersonal yang produktif akan terjadi manakala diantara kedua pihak saling percaya (trust). Sebaliknya, kalau satu pihak sudah tidak percaya (zerro trust) mungkin karena kesan tidak sungguh-sungguh atau gaya bicara dominatif, maka komunikasi akan kontra-produktif.

Orang tua yang bisa berperan sebagai ayah, ibu, guru dan sahabat sekaligus akan sangat membantu komunikasi orangtua-anak. Dialog-jeda tidaklah membutuhkan waktu yang banyak. Kualitas akan terbangun seiring kuantitas pertemuan. Kedalaman akan terbangun bersama dengan tumbuhnya kepercayaan.

Saat komunikasi menjadi kebutuhan, dimana ditandai dengan anak-anak bersedia mendekat dan ringan hati untuk curhat, maka bagi setiap orang tua tiada lagi rasa penasaran dan alasan kekuatiran.

Kamis, 06 Oktober 2011

Mengalir Sampai Jauh


Setiap anak ditolak keinginannya, ia menciptakan energi memberontak yang sama besar. Kreativitas dalam tubuh anak yang tengah berkembang bagai air yang terus coba mengalir. Bisa bergerak terukur seperti kran di rumah namun dapat pula mendobrak liar seperti air bah yang dahsyat.

Orang tua, yang sesungguhnya pernah melewati masa kanak-kanak dan muda, tidak perlu cemas. Sejauh mengenali arah keinginannya, orang tua yang paham anak sejak dini, bisa menemani ia tumbuh dan berkembang. Minat atas olah raga, ketrampilan dan seni, akademik, otomotif atau lainnya dapat membantu mengenali detil kemana hasrat diri anak akan mengalir.

Makin kita mengenal potensi, seperti minat, bakat, tabiat, ragawi dan hobi anak, tentu orang tua makin mudah memberi pencerahan: kemana arah masa depannya? Untuk itu orang tua dan anak  tidak boleh ada sekat komunikasi. Setiap kali orang tua dan anak bertemu, saat itu pula harus diciptakan suasana dan kesempatan untuk membangun kedekatan dan persepsi bersama -- tiap inchi permasalahan, pertumbuhan dan perkembangan keluarga. Kuncinya adalah kenali dan dekati.

Ruang paling nyaman bagi anak-anak berkomunikasi adalah jagad keinginannya. Tempat disekitar dia sedang bermain (indoor atau outdoor) dan topik diseputar ia mencurahkan minat. Keduanya adalah taman perbincangan yang paling menggairahkan dan inspiratif. Makin anak-orang tua dapat bercengkerama di taman yang nyaman dapat dipastikan hasil komunikasinya produktif. Sebaliknya, makin jauh orang tua menyeret pembicaraan keluar ranah itu, secara umum anak akan menurunkan hasrat dan menarik-kedalam peran dirinya, seperti siput yang tersentuh getaran.

Apabila anak sudah seperti siput percuma diluncurkan berbaris-baris nasehat dan kata-kata orang tua. Ia tidak beringsut pergi secara fisik, tetapi sebenarnya ia sudah menutup pintu rapat-rapat bagi masuknya informasi yang dapat menggerakkan hatinya. 

Orang tua perlu bersifat bijak. Kearifan Jawa mengutarakannya dengan ungkapan, "mili tapi ora keli". Orang tua sedapat mungkin mengiringi anak kemanapun mereka mengalir, tapi tidak ikut hanyut kedalamnya. Anak boleh mengajukan keinginan dan permintaan apapun atau bercita-cita menjadi siapa saja. Hanya saja orang tua perlu cermat. Berilah suatu pertimbangan bahwa untuk setiap pilihan hidupnya ada alasan dan keyakinan yang sehat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Anakku, mengalirlah sampai jauh...

Senin, 03 Oktober 2011

Kejujuran Yes, Kekerasan No

Sewaktu bocah, saya pernah diinterogasi ayah karena suatu hari menghabiskan uang jajan sekolah. Ayah dengan nada keras dan kata-kata tajam memaksa saya menceritakan kronologi, warung yang dikunjungi, makanan yang sudah dibeli dan teman-teman yang saya ajak menghabiskan uang. Saya menjawab satu persatu pertanyaan, dari sebelah meja. Bagai benang basah, runtuh, saya tertunduk lesu dan badan seperti sulit ditegakkan. Ayahku tidak pernah marah besar seperti ini, kecuali bila anak-anak malas belajar.

Kevin (bocah kecil pada film Home Alone) pernah pula dimarahi ayahnya karena kedapatan "merusak" properti rumahnya bagai  kapal pecah, saat terpaksa melawan pencuri. Sang ayah mendorong anak pada satu sisi kamar kemudian menahan pelan sembari duduk.

"Saya bisa memahami dan memafkan kamu, tapi tidak untuk berbohong," tanya ayah lembut. Anak pun mengatakan yang sebenarnya. Sang ayah tidak berusaha menyalahkan, hanya ingin mengetahui fakta yang sebenarnya. Sang ayah tidak hendak mempermalukan dan menghukum, hanya ingin anak berkata jujur.

Sang anak pun menatap ayah dengan tegak. Dengan mental yang utuh ia ceritakan semua. Komunikasi interpersonal yang terbangun antara ayah dan anak begitu positif dan seimbang. Tidak ada kesan bahwa ayah adalah kuat dan kuasa sementara anak lemah dan tidak kuasa. Disatu sisi, tidak ada kekuasaan yang berhasrat meruntuhkan moral, sementara disisi lainnya tidak ada hasrat berbohong untuk menyelamatkan diri.
 
Setelah anak-anak makin besar, sikap ayahku berkembang sangat baik dan demokratis dibanyak hal. Aku pun mengerti bahwa cara ia menginterogasi dahulu diperoleh dari kakek. Itulah cara kakek menanamkan sikap kejujuran pada anak-anaknya, termasuk ayah: keras dan sepihak.

Aku sangat sependapat bahwa kejujuran adalah prinsip dan warisan budi utama yang setiap orang tua harus membekalinya pada anak-anak melalui ragam media pembelajaran, terutama awalnya di keluarga. Lebih dari itu, anak-anak adalah manusia pula yang harus diberi kesempatan setara dan dilimpahi kasih sayang. Peradaban menunjukkan bahwa jalan kekerasan gagal membentuk pribadi jujur, sekalipun ditorehkan oleh orangtua biologisnya sendiri.

Ketidakjujuran adalah tindakan yang tidak termaafkan, tapi bila kita menanamkannya dengan cara kekerasan hanyalah merusak tunas-tunas kebaikan yang kelak tumbuh besar dan berkembang kuat bersamanya.