Rabu, 19 Oktober 2011

Ksatria, berangkatlah...


Salam Pramuka!
Anakku yang gagah. Beberapa saat lagi kalian akan berangkat kemah pramuka. Menatapmu yang sebentar lagi akan ditelan menjadi rombongan, adalah saat yang menyentuh bagi ayah. Kalian pasti akan jauh dari ayah dan bunda. Adikmu pasti akan bertanya setiap bangun tidur besok. Kamarmu juga merindu dengan coretan pastel warna-warni.  

Anakku yang tegar. Ayah hampir tak percaya kalau kamu sesungguhnya sudah besar. Kamu sudah terpilih dengan seleksi ketat dari ratusan anak yang berasal dari puluhan siswa sekolah dasar. Berarti ayah harus menerima kenyataan bahwa kamu lebih kuat sesungguhnya dari yang ayah bayangkan. Kamu ternyata sudah tumbuh menjadi sepasukan prajurit khusus yang dipilih instruktur, para kakak pembina. Justeru ayah yang lemah, begitu  ditinggal kamu pergi kemah menjadi kanak-kanak. 
 
Anakku, ayah pernah punya perasaan seperti ini. Ketika  ibumu akan pergi kursus untuk beberapa minggu. Tapi kepergianmu saat ini lebih mengiris. Aku masih melihatmu bocah yang berat sekali menggendong rangsel. Bahkan memasang temali sepatu pun masih tertukar lubangnya. Tapi ayah harus tega melepasmu berkemah dipinggir hutan dengan kawan-kawan. Digigit udara dingin dan diimpit pekat malam. 

Sekalipun perasaan ayah tampak terlambat mengerti lompatan besar kaki mungilmu, tapi ayah ingin sekali engkau tidak menutup telinga dengan nasehatku. Simpanlah sobekan kata-kata ayah.

Pertama, ingatlah terus dengan janji suci Dasa Dharma. Bagian pertama Janji tersebut berbunyi: Taqwa kepada Tuhan YME. Karena itu, disetiap kesempatan ayah pesan, ingatlah selalu Tuhan, Allah. Ditengah alam nanti kalian jauh dari orang tua, pun tidak ditunggui terus oleh guru. Ancaman binatang buas dan jatuh sakit dapat menyelinap sewaktu-waktu. Disela waktu yang terbatas dan jadwal kegiatan yang akan padat: jangan pernah lupakan sholat! Bagi pemeluk non-muslim pun sembahyanglah dengan segenap keteguhan dan cara masing-masing. Kekuatan spiritual akan menjadi obor semangat baja.

Kedua, jaga jiwa korsa. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh; ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Jangan ada rasa tinggi hati karena diantara kalian ada yang juara kelas, anak pejabat atau saudagar. Merasa paling kaya, cantik, atau tampan. Ditengah alam dan kompetisi ketat, kalian hanya bisa selamat dengan cara disatukan oleh jiwa kebersamaan. Perbedaan melebur jadi kesatuan! 

Kalau ada kawan yang terluka, kalian bersama harus menanggung deritanya dan bersama pula mengobati. Buatlah kawan-kawanmu selalu ceria, senang, dan bergembira. Kemah ingin menyebarkan virus kegembiraan malalui permainan, kepada anak-anak. Nikmatilah bertemu kawan-kawan dari lain wilayah. Hati yang gembira adalah bekal menjalani kehidupan yang berliku dan keras dimasa depan. Kegembiraan adalah daya-hidup yang mampu menjaga manusia ke tangga suskses dan menjaganya usia berumur panjang.

Ketiga, jagalah sportivitas. Ayah sangat senang apabia kalian kelak menjadi juara. Kami sangat berterima kasih apabila piala di ruang rumah atau sekolah akan bertambah. Namun melampaui kebanggaan menjadi sang juara,  adalah kebahagiaan ayah apabila kalian menjadi kesatria yang agung yang senantiasa menjaga kejujuran disetiap pekerjaan dan perlombaan.

Sikap sportif inilah yang akan terbawa sampai kalian remaja, menjadi orang tua, menjadi pengusaha, menjadi petani, pejabat, tentara, atau apapun.Piala dan piagam akan usang dan mungkin tersingkir saking banyaknya. Tapi jiwa sportif akan menjadi bekal hidup disegala kesempatan. Inilah yang ayah lebih harapkan, sehingga menang atau kalah menjadi nomor dua, setelah urutan sikap ksatria.

Anakku, selamat berlomba dan bergembira. Berangkatlah kalian sebagai ksatria!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar