Bagi banyak keluarga muda modern menjaga kontinuitas dan intensitas komunikasi dengan anak-anak bukan perkara sepele. Pilihah antara karir dan domestik bisa berujung sama. Orang tua karir sering beralasan sudah menghabiskan waktu ekstra diluar rumah mencari uang atas nama masa depan anak-anak. Sementara orang tua yang domestik terlalu lelah mengerjakan rangkaian "the endless job" setiap hari dirumah sehingga mengabaikan perkembangan anak. Keduanya berpotensi membahayakan karena melemahkan sinyal komunikasi orang tua dan anak.
Salah satu cara yang bisa ditempuh untuk menjaga kualitas komunikasi adalah dengan mengagendakan dialog-jeda setiap hari. Artinya, orang tua disetiap kesempatan bertemu dengan anak harus berusaha menjadi pewawancara yang baik. Seperti saat merapikan kamar tidur, persiapan sekolah, menyampaikan uang jajan, mendampingi bikin PR, makan bersama keluarga, menunggu kursus masuk, menyiram kembang, memberi pakan ternak atau mengantar anak-anak tidur.
Hal-hal utama yang menjadi pertanyaan wajib antara lain : Apa, Dimana, dan bersama Siapa mereka bermain atau belajar. Apa yang mereka kerjakan akan memberikan informasi kepada orang tua ikhwal perkembangan dan pertumbuhan minatnya. Permainan atau pekerjaan yang sedang dilakukan bersama kawan-kawan merupakan tahap uji coba yang sedang dipersiapkan mereka sendiri. Orang tua perlu terus memantau tapi jangan terkesan memata-matai. Apalagi memunculkan kekuatiran yang berlebihan.
Dimana mereka berkumpul dan membangun aktivitas hari demi hari menjadi semacam sensor guna mendeteksi keberadaan anak-anak. Dari informasi lokasi mereka bermain, orang tua dapat mendeteksi apakah itu masih dalam zona aman atau zona bahaya. Tentu saja aman-bahaya meliputi deteksi berupa ancaman yang bersifat fisik maupun psikologis. Ancaman fisik berupa kawasan yang resiko bahayanya tidak terukur dan anak-anak dapat terluka karena kelalaian sendiri atau serangan pihak luar.
Siapa kawan-kawan mereka merupakan "peer group". Dengan mengenal kelompok bermaian anak-anak maka orang tua lebih mudah mencari referensi apabila anak-anak sedang bermasalah. Anak-anak seusianya akan menciptakan perkawanan kreatif yang solid dan saling ketergantungan.
wawancara yang produktif
Memberi jawaban lebih mudah daripada menyusun pertanyaan. Kunci wawancara adalah penghargaan. Bicaralah dengan baik supaya anak mau mendengar dan dengarkalah aspirasi mereka dengan sungguh-sungguh supaya mereka mau berbicara. Komunikasi interpersonal yang produktif akan terjadi manakala diantara kedua pihak saling percaya (trust). Sebaliknya, kalau satu pihak sudah tidak percaya (zerro trust) mungkin karena kesan tidak sungguh-sungguh atau gaya bicara dominatif, maka komunikasi akan kontra-produktif.
Orang tua yang bisa berperan sebagai ayah, ibu, guru dan sahabat sekaligus akan sangat membantu komunikasi orangtua-anak. Dialog-jeda tidaklah membutuhkan waktu yang banyak. Kualitas akan terbangun seiring kuantitas pertemuan. Kedalaman akan terbangun bersama dengan tumbuhnya kepercayaan.
Saat komunikasi menjadi kebutuhan, dimana ditandai dengan anak-anak bersedia mendekat dan ringan hati untuk curhat, maka bagi setiap orang tua tiada lagi rasa penasaran dan alasan kekuatiran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar