Senin, 07 Mei 2012

Ibu diatas Lemari

Suatu ketika saya mendengar seorang anak remaja mendesis memaki ibunya. "Kalo ortu gak sekolah ya gitu, jadul, apa-apa dilarang. Menyebalkan dech..!". Saya melirik sekilas. Remaja ini masih berbaju sekolah abu-abu. Dari ocehannya, jelas ada kegalauan. Ia merasa kultur keluarga dan sikap ibunya selalu menyandera keinginannya.
Potret diatas hanya satu contoh. Bahwa setelah orang tua bersusah payah dan perihatin menyekolahkan anak-anak, ternyata sikap anak bisa tumbuh diluar ekspektasi orang tua. Alih-alih menghormati, sebagian anak-anak justeru berdiri seperti menara gantung. Mereka tidak sedikitpun menyadari bahwa orang tualah yang telah turut andil menjadikannya cerdas dan hebat, sekalipun pengetahuan orang tua masih bertahan sesuai tradisi lama dan kerap dipoyoki 'katro'. Bisa dikatakan predikat orang tua adalah serba buruk, dan segala kebaikan adalah milik anak-anak yang terdidik.
Tapi sebenarnya ada hal yang anak-anak sekolahan itu mahfumi. Betapa mereka kini maju dan terdidik, kalau saja dimasa lalu --ditengah kesulitan ekonomi keluarga--mereka tidak dijaga dan dibesarkan, pastilah ia cuma sepotong daging busuk yang teronggok di tempat sampah. Diluar kelemahan dan kekurangan beliau, saya --sepakat dengan seniman Drajat Nur Angkoso-- kalo anak-anak harus memposisikan Sang Ibu seperti Kitab Suci. Yakni, sekalipun jarang dibaca dan ajaran-ajarannya kurang diminati, tapi rasa hormat atas kitab suci harus diletakkan diatas lemari.
Ibu, maafkan anakmu kalau ada lara karna salahku!    
   

Senin, 19 Maret 2012

Rindu

Selama saya kuliah di jogja ada hal yang tidak pernah berubah dari Ayah. Beliau tidak berkenan mentransfer kiriman uang kuliah lewat bank atau berkirim wesel lewat kantor pos di kecamatan. Beliau rela berpayah mengantar langsung uang saku anak ke kampus yang berjarak lebih dari 100 km. Sekalipun suatu kali hanya bertemu sebentar karena diburu masuk perkuliahan, ia tidak pernah merasa menyesal. Saat itu, ia berdalih kiriman uangnya cuma tidak seberapa jadi kalau dikirim lewat bank atau pos akan rugi terpotong ongkos kirim. Awalnya saya percaya saja.

Suatu hari setelah saya sudah bekerja dan menjadi seorang ayah pula. Saya coba mempertanyakan kembali pertimbangan "kebijakan keuangan" ayah yang demikian. Bukankah sebenarnya ongkos kirim tidak lebih mahal dari pada ongkos naik bus atai tiket kereta dari rumah ke Jogja? Dalih ketika itu agaknya alasan kulit. Beruntung ayah mau menjelaskan.

Dengan tersenyum khas ayah bercerita.
Bahwa bukan uang yang jadi pokok perkara sebenarnya. Tapi maksud uang diantar langsung maka ayah bisa bertemuan langsung. Berarti pula, ia bisa melihat langsung tiap sentimeter perkembangan lahir dan batin anaknya. Sekalipun ayah yang perangkat desa baru bisa berangkat selepas kantor tutup dan tentu sudah pasti capek tapi menemui anaknya dan berkomunikasi tatap muka adalah ritual tersendiri yang tidak tergantikan.

Didalam pertemuan yang seringkali singkat itu terbungkus banyak hal. Diantaranyasudah pasti kiriman masakan kering ibu dari dapur rumah. Pengawasan rutin orang tua terhadap kemajuan studi anak. Konfirmasi keberadaan kegiatan anak pada kawan-kawan yang tinggal seasrama melaui obrolan santai. Mencuri perhatian anak melalui makan siang gratis di warung saat hendak pulang.

Tidak selamanya sebagai anak saya merasa nyaman. Ketika kehendak privacy anak tengah meruap begitu hebat maka kunjungan orang tua ke asrama yang waktunya tidak tertetu adalah sangat menyakitkan. Maksud orang tua yang begitu mulia tidak selamanya dapat dipahami oleh nalar anak.Sebaliknya, terdapat perkembangan anak yang tidak mudah diterima oleh orang tua. Tidak jarang ada ketegangan psikologis bahkan sikap memberontak.       

Setelah sekian waktu pengalaman itu mengendap dan saya pun tumbuh sebagai ayah. Saya baru dapat mengerti dan berempati. Orang tua di benua timur sepertinya tidak pernah sedetikpun ingin dipisahkan dengan anak-anaknya. Segala hal yang dimiliki pasti ingin diberikan demi membahagiakan anak walau sebagian keliru tanpa sadar jadi memanjakan anak. Intinya, jalinan kekeluargaan orang tua dan anak melintasi situasi dan kondisi serta kerinduan itu begitu tampaknya.

Terima kasih ibu untuk kering-tempe atau srundeng keong yang sudah dititipkan ayah. Maafkan aku ayah jika ada beberapa potong rindumu yang saya sambut dingin dan tanpa karangan bunga diwajahku.   

Warung Belajar

Beberapa minggu lalu saya sepakat dengan istri memanfaatkan garasi untuk membuka warung kelontong. Warung kecil yang menyediakan kebutuhan sembako dan peralatan sekolah untuk tetangga di sekitar rumah. Kami tunggui sendiri dengan menyiasati jam-buka waktu pagi sebelum berangkat kerja dan waktu sore setelah pulang kantor sampai cukup malam.

Kami memperoleh banyak pengalaman dengan berkunjungnya kalangan tetangga ke warung baru. Sedikitnya rumah kami yang terletak diujung jalan kini jadi kadang ramai sampai malam. Kami bisa belanja berita perkembangan warga desa dari informasi yang dipasok tetangga yang mampir belanja. Juga mulai mengerti bahwa mengembangkan jiwa wirausaha tidak boleh bersikap pantang menyerah.

Dibenak saya timbul kembali nasehat orang tua sewaktu saya mau melempar sauh berumah tangga. "Urip bebrayan kuwe aja wedi kesel karo isin (hidup berkeluarga itu jangan takut repot dan malu)," katanya saat itu. Sepanjang hidup memang tidak pernah saya melihat ayah dan ibu mudah menyerah dan menangisi segala takdir yang terkadang berat sekalipun.

Saya meresapi kalimat orang tua. Tidak sadar, anak-anak ternyata sedang memperhatikan pula apa-apa yang kami lakukan saat beraktivitas di warung.

Suatu kali anak-anak jadi sangat betah dirumah. Biasanya sepulang sekolah ia bergegas ganti baju dan berhambur dengan kawan-kawan peer-group. Kadang pula menghabiskan membaca majalah atau menonton tv. Tapi kali ini tidak!

Ia bilang mau menunggu warung. Mula-mula belajar cara menimbang dan membungkusi gula pasir. Kemmudian ia melayani temen-temen yang beli jajan. Ia pun menghitung receh pengembalian. Asyik juga sepertinya. Tidak terbayangkan respon positif anak-anak atas aktivitas usaha dirumah.

Kami jadi sangat gembira. Aktivitas berjualan baru menghasilkan tambahan penghasilan. Namun keuntungan terbesar kami adalah kesempatan anak-anak yang belajar berhitung matematika harian, menimbang dengan adil, melatih sabar dengan menunggu serta tumbuh tidak pemalu. Semoga mereka menyadari pula bahwa setiap rupiah yang dikumpulkan merupakan hasil kerja keras yang harus ditabung dan dibelanjakan dengan bijaksana.
  

Minggu, 13 November 2011

Pekerjaan kecil

Sewaktu pulang kantor saya mendapati sepiring nasi goreng. Saya tahu waktu sarapan tadi pagi istri tidak mempersiapkan menu hangat ini. Karena sudah lapar, saya melahapnya sebagai menu makan siang. Rasanya agak aneh tapi sangat orisinal di lidah.

Malam hari kemudian saat sedang menemani anak-anak membuat PR, saya di kejutkan pertanyaan si sulung. "Ayah, nasi gorengnya enak apa enggak?" Celetuknya enteng, tanpa menoleh sibuk melanjutkan pekerjaan rumah. Saya menganggguk tapi ia memaksa bukan dengan jawaban gensture. Saya pun jawab : "Ya, mak nyoss!"

Saya baru paham kalau ia sudah bisa mempersiapkan nasi goreng. Saya pun mulai mengerti bahwa saat ia menyela ikut mengupas bawang merah, bawang putih atau memaksa coba menghaluskan bumbu didapur, sesungguhnya ia sedang belajar memasak. Dunia memasak yang identik dengan perempuan ternyata sudah dimasukinya. Ia memperoleh inspirasi pula dari tontonan khoki cilik. Sekarang ia tidak hanya dapat mempersiapkan sendiri baju sekolah tapi juga makan siangnya.

Anak saya laki-laki semua. Namun keluarga sepakat bahwa tidak ada pekerjaan berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Semua bersiap diri terlibat membantu pekerjaan di rumah, termasuk ayah pun dapat tugas memasak dan menyapu lantai.

Si sulung baru 8 tahun duduk dikelas 2 SD. Saya sangat senang ia dapat mengerjakan sendiri hal-hal kecil urusannya sendiri. Saya pun ceritakan ini pada adik-adiknya. Saya memberinya pujian : kalau anak-anak bisa hebat menyelesaikan pekerjaan kecil sendiri, maka orang tua punya banyak waktu untuk memberikan hal-hal besar bagi anak-anak.

Sejak hari itu, anak-anak melesat seperti anak panah.

Jumat, 21 Oktober 2011

Warisan terbaik

Bagi keluarga yang tidak cukup kaya, namun memilih melanjutkan pendidikan bagi anak-anak. Property keluarga kebanyakan sudah menipis untuk biaya sekolah anak-anak. Bagi kami pun tersisa tinggal rumah dan sedikit tanah disebelahnya. Sejak sekolah dasar, ayah memang menanam pengertian supaya anak-anak dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik. 


Menurut ayah menuntut ilmu adalah tugas suci (sacrifie). Anak-anak yang rajin atau tekun belajar bagi ayah bisa disamakan dengan dengan hari-hari mulia sang ibu yang tengah mengandung atau setara dengan jerih payah seorang ayah yang mencari nafkah. Untuk mengenang dedikasinya, pada Buku Yassin 1.000 hari mengenang meninggalnya anak-anak mengukir kredonya supaya tidak lupa: "Jika ada orang yang dengan gagah dan tabah menghadapi penderitaan, sangat sederhana, dan rendah hati, serta begitu yakin bahwa warisan paling mulia adalah memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya; beliau adalah Ayah." Kalimat ini diinspirasi otobiografi Malcom-X.

Sebaliknya, warisan paling berbahaya bagi anak-anak yang diberikan orang tua adalah kebencian. Dengan tidak sadar rasa tidak suka atas sesuatu atau seseorang dapat diwariskan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Misal, saat orang tua begitu telanjang dan sisnis membicarakan profil keluarga, saudara atau tetangga. Tatkala orang tua melarang anak plihan fashion tertentu hanya karena menyerupai pribadi orang yang dibenci. Saat mereka mengatur tempat duduk pertemuan, arisan atau memilih rute perjalanan, dimana terdapat maksud menjauh dari sang lain agar terlupakan.


Setiap orang tua mestinya mewariskan setangkup sayap kasih sayang. Anak-anak perlu didorong  supaya dapat melintasi pergaulan dunia dengan leluasa. Anak-anak perlu diberi waktu terbang yang cukup supaya gugusan ide dan gejolak kenyataan yang direkamnya cukup menjadi bekal hidup mandiri. 


Semangat kasih sayang akan membalut sekujur luka antar manusia. Bagai selimut hangat yang menutup tubuh satu keluarga, satu kampung, atau satu bangsa; sehingga tidak tersisa celah satu inchi permusuhan berdarah dingin masuk. Rasa kasih sayang bersumbu pada keyakinan bahwa setiap manusia adalah entitas setara, dan karena itu antar manusia harus berdampingan satu sama lain (koeksistensi) saling mendukung pencapaian cita-cita positif masing-masing.


Masih ada warisan terbaik lainnya. Yakni mengajari anak-anak hormat kepada orang tua, guru, dan tetangga. Risalah abadi para Nabi menganjurkan supaya peradaban memuji kedudukan mereka. Mereka telah berjasa menanamkan cinta dilubuk hati. Orang tua mendekap semua anak-anak sama hangatnya. Sang guru mengajari anak-anak budi pekeri dan ketrampilan hidup mandiri. Para tetangga memagari anak-anak dari sergapan orang asing yang seperti serigala sewaktu-waktu dapat masuk desa dipinggir hutan.

Jangan biarkan kebencian mencuri hati anak-anak kita yang paling disayangi. 

Rabu, 19 Oktober 2011

Ksatria, berangkatlah...


Salam Pramuka!
Anakku yang gagah. Beberapa saat lagi kalian akan berangkat kemah pramuka. Menatapmu yang sebentar lagi akan ditelan menjadi rombongan, adalah saat yang menyentuh bagi ayah. Kalian pasti akan jauh dari ayah dan bunda. Adikmu pasti akan bertanya setiap bangun tidur besok. Kamarmu juga merindu dengan coretan pastel warna-warni.  

Anakku yang tegar. Ayah hampir tak percaya kalau kamu sesungguhnya sudah besar. Kamu sudah terpilih dengan seleksi ketat dari ratusan anak yang berasal dari puluhan siswa sekolah dasar. Berarti ayah harus menerima kenyataan bahwa kamu lebih kuat sesungguhnya dari yang ayah bayangkan. Kamu ternyata sudah tumbuh menjadi sepasukan prajurit khusus yang dipilih instruktur, para kakak pembina. Justeru ayah yang lemah, begitu  ditinggal kamu pergi kemah menjadi kanak-kanak. 
 
Anakku, ayah pernah punya perasaan seperti ini. Ketika  ibumu akan pergi kursus untuk beberapa minggu. Tapi kepergianmu saat ini lebih mengiris. Aku masih melihatmu bocah yang berat sekali menggendong rangsel. Bahkan memasang temali sepatu pun masih tertukar lubangnya. Tapi ayah harus tega melepasmu berkemah dipinggir hutan dengan kawan-kawan. Digigit udara dingin dan diimpit pekat malam. 

Sekalipun perasaan ayah tampak terlambat mengerti lompatan besar kaki mungilmu, tapi ayah ingin sekali engkau tidak menutup telinga dengan nasehatku. Simpanlah sobekan kata-kata ayah.

Pertama, ingatlah terus dengan janji suci Dasa Dharma. Bagian pertama Janji tersebut berbunyi: Taqwa kepada Tuhan YME. Karena itu, disetiap kesempatan ayah pesan, ingatlah selalu Tuhan, Allah. Ditengah alam nanti kalian jauh dari orang tua, pun tidak ditunggui terus oleh guru. Ancaman binatang buas dan jatuh sakit dapat menyelinap sewaktu-waktu. Disela waktu yang terbatas dan jadwal kegiatan yang akan padat: jangan pernah lupakan sholat! Bagi pemeluk non-muslim pun sembahyanglah dengan segenap keteguhan dan cara masing-masing. Kekuatan spiritual akan menjadi obor semangat baja.

Kedua, jaga jiwa korsa. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh; ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Jangan ada rasa tinggi hati karena diantara kalian ada yang juara kelas, anak pejabat atau saudagar. Merasa paling kaya, cantik, atau tampan. Ditengah alam dan kompetisi ketat, kalian hanya bisa selamat dengan cara disatukan oleh jiwa kebersamaan. Perbedaan melebur jadi kesatuan! 

Kalau ada kawan yang terluka, kalian bersama harus menanggung deritanya dan bersama pula mengobati. Buatlah kawan-kawanmu selalu ceria, senang, dan bergembira. Kemah ingin menyebarkan virus kegembiraan malalui permainan, kepada anak-anak. Nikmatilah bertemu kawan-kawan dari lain wilayah. Hati yang gembira adalah bekal menjalani kehidupan yang berliku dan keras dimasa depan. Kegembiraan adalah daya-hidup yang mampu menjaga manusia ke tangga suskses dan menjaganya usia berumur panjang.

Ketiga, jagalah sportivitas. Ayah sangat senang apabia kalian kelak menjadi juara. Kami sangat berterima kasih apabila piala di ruang rumah atau sekolah akan bertambah. Namun melampaui kebanggaan menjadi sang juara,  adalah kebahagiaan ayah apabila kalian menjadi kesatria yang agung yang senantiasa menjaga kejujuran disetiap pekerjaan dan perlombaan.

Sikap sportif inilah yang akan terbawa sampai kalian remaja, menjadi orang tua, menjadi pengusaha, menjadi petani, pejabat, tentara, atau apapun.Piala dan piagam akan usang dan mungkin tersingkir saking banyaknya. Tapi jiwa sportif akan menjadi bekal hidup disegala kesempatan. Inilah yang ayah lebih harapkan, sehingga menang atau kalah menjadi nomor dua, setelah urutan sikap ksatria.

Anakku, selamat berlomba dan bergembira. Berangkatlah kalian sebagai ksatria!

Selasa, 18 Oktober 2011

Dialog jeda

Bagi banyak keluarga muda modern menjaga kontinuitas dan intensitas komunikasi dengan anak-anak bukan perkara sepele. Pilihah antara karir dan domestik bisa berujung sama. Orang tua karir sering beralasan sudah menghabiskan waktu ekstra diluar rumah mencari uang atas nama masa depan anak-anak. Sementara orang tua yang domestik terlalu lelah mengerjakan rangkaian "the endless job" setiap hari dirumah sehingga mengabaikan perkembangan anak. Keduanya berpotensi membahayakan karena melemahkan sinyal komunikasi orang tua dan anak.

Salah satu cara yang bisa ditempuh untuk menjaga kualitas komunikasi adalah dengan mengagendakan dialog-jeda setiap hari. Artinya, orang tua disetiap kesempatan bertemu dengan anak harus berusaha menjadi pewawancara yang baik. Seperti saat merapikan kamar tidur, persiapan sekolah, menyampaikan uang jajan, mendampingi bikin PR, makan bersama keluarga, menunggu kursus masuk, menyiram kembang, memberi pakan ternak atau mengantar anak-anak tidur.

Hal-hal utama yang menjadi pertanyaan wajib antara lain : Apa, Dimana, dan bersama Siapa mereka bermain atau belajar. Apa yang mereka kerjakan akan memberikan informasi kepada orang tua ikhwal perkembangan dan pertumbuhan minatnya. Permainan atau pekerjaan yang sedang dilakukan bersama kawan-kawan merupakan tahap uji coba yang sedang dipersiapkan mereka sendiri. Orang tua perlu terus memantau tapi jangan terkesan memata-matai. Apalagi memunculkan kekuatiran yang berlebihan.

Dimana mereka berkumpul dan membangun aktivitas hari demi hari menjadi semacam sensor guna mendeteksi keberadaan anak-anak. Dari informasi lokasi mereka bermain, orang tua dapat mendeteksi apakah itu masih dalam zona aman atau zona bahaya. Tentu saja aman-bahaya meliputi deteksi berupa ancaman yang bersifat fisik maupun psikologis. Ancaman fisik berupa kawasan yang resiko bahayanya tidak terukur dan anak-anak dapat terluka karena kelalaian sendiri atau serangan pihak luar.

Siapa kawan-kawan mereka merupakan "peer group". Dengan mengenal kelompok bermaian anak-anak maka orang tua lebih mudah mencari referensi apabila anak-anak sedang bermasalah. Anak-anak seusianya akan menciptakan perkawanan kreatif yang solid dan saling ketergantungan.


wawancara yang produktif
Memberi jawaban lebih mudah daripada menyusun pertanyaan. Kunci wawancara adalah penghargaan. Bicaralah dengan baik supaya anak mau mendengar dan dengarkalah aspirasi mereka dengan sungguh-sungguh supaya mereka mau berbicara. Komunikasi interpersonal yang produktif akan terjadi manakala diantara kedua pihak saling percaya (trust). Sebaliknya, kalau satu pihak sudah tidak percaya (zerro trust) mungkin karena kesan tidak sungguh-sungguh atau gaya bicara dominatif, maka komunikasi akan kontra-produktif.

Orang tua yang bisa berperan sebagai ayah, ibu, guru dan sahabat sekaligus akan sangat membantu komunikasi orangtua-anak. Dialog-jeda tidaklah membutuhkan waktu yang banyak. Kualitas akan terbangun seiring kuantitas pertemuan. Kedalaman akan terbangun bersama dengan tumbuhnya kepercayaan.

Saat komunikasi menjadi kebutuhan, dimana ditandai dengan anak-anak bersedia mendekat dan ringan hati untuk curhat, maka bagi setiap orang tua tiada lagi rasa penasaran dan alasan kekuatiran.