Rabu, 03 Juli 2019

CERMIN

Sebuah cermin merefleksikan tubuh kita. Nyaris persis, kecuali citra terbalik kanan kiri. Cermin memperlihatkan tubuh kita. Dari citra yang diberikannya, kita bisa melihat lekuk atau luka tubuh sendiri.

Seorang pemimpin yang baik adalah cermin yang merefleksikan rakyat yang baik pula. Visi pemimpin akan bersambung dengan cita-cita luhur rakyat. Misi dan program pemimpin pun sebangun dengan amanat penderitaan rakyat (Ampera).

Bijimana, politik uang? Politik uang membajak suara hati dengan kepalsuan. Mengubah partisipasi menjadi mobilisasi. Awalnya: menyesatkan penilaian pemilih. Kemudian: menciptakan cermin buram kepemimpinan. Akhirnya: merusak mutu demokrasi kita.

Ada sebersit tanya: Bukankah politik uang sudah nyata. Dan membudaya disekeliling kita? Betul. Bahkan meluas adanya. Faktanya tidak bisa dibantah. Namun, sebagai budaya yang salah dan menjerumuskan kualitas pemimpin terpilih, sudah semestinya kita perbaiki. Politik uang sebagai luka dan kesalahan tidaklah patut dipuja!


Sabtu, 29 Juni 2019

PILKADES

Rasanya mekar hati saya. Melihat antusiasme pendaftar bakal calon (balon) kepala desa pada Pilkades serentak di 197 desa tahun ini di Kabupaten Banjarnegara.

Bayangkan para calon: ada satu desa diminati 13 orang; ada diantaranya berpendidikan Master; ada yang mantan camat; ada yang mantan DPRD. Banyak lagi. Kira-kira hanya satu-dua desa tiap kecamatan yang lesu atau pendaftarannya belum genap.

Pilkades memang memiliki tingkat partisipasi pemilih tertinggi. Sekitar 80-85% ditiap desa. Bandingkan : Pemilu 2019 (77,50%). Atau Pilgub Jateng (68,01%). Sebab utama, barangkali, kedekatan kontestan dengan pendukungnya. Baik dekat dalam arti : jarak domisili, aspirasi maupun psikologi. Kedekatan memang mencipta greget. Membuat pesta politik 6 tahunan meriah dan bergairah di desa-desa.

Namun, bersamaan itu mengintip pula: potensi gesekan konflik sosial. Tidak sedikit, pasca Pilkades : kakak-adik, antar keluarga atau antar dusun; berseteru. Hingga jadi noda hitam suasana harmoni dan paguyuban perdesaan.

***
Antusiasme saja belum cukup. Katakanlah masih sejenis kuncup. Untuk bikin mekar sebuah kuncup Pilkades disuatu desa masih perlu dimatangkan banyak hal.

Semestinya. Ya, sudah semestinya. Berkali  pemilu maupun Pilkades kita makin matang tumbuh menjadi  bangsa. Diantaranya ditandai dengan mampu merawat kebinekaan yang sekaligus efektif pula memajukan daerah atau desa.

Ya, semestinya. Telah banyak bermunculan kontestan atau calon yang makin dewasa. Juga, pemilih yang makin cerdas dan bersahaja dalam berpolitik. Kelahiran pemimpin lokal yang kuat dan aspiratif. Transisi demokrasi yang tidak saja prosedural, namun menimbang aspek subtansial.

Semestinya pula. Ditengah meluasnya praktek pembelian suara melalui beragam modus politik uang (money politics) disetiap pemilu. Kita menekannya dengan serius melalui komitmen dan aksi nyata, sekuat tenaga, dalam Pilkades kali ini.

Wallahu 'alam bishawab

FITRAH

Seorang kawan yang sangat peduli dengan desa kelahirannya. Jelang Pilkades serentak, memilih mengubur impian dalam-dalam. Untuk menjadi seorang kepala desa dirinya merasa tidak tega --walau memiliki cukup uang--  untuk ikut-ikutan membeli suara dalam ajang Pilkades.
***
Pemilu dan Pilkades merupakan instrumen demokrasi. Sebuah instrumen politik akan efektif menghasilkan transformasi sosial. Bila masyarakat bersedia menerima dan bersedia berubah sesuai nilai-nilai instrumen tersebut.
Politik uang yang berkembang massif dalam mekanisme pemilihan, akhir-akhir ini, bukanlah termasuk nilai unggul demokrasi. Politik uang memihak dan kolusi pada segelintir calon yang kuat secara ekonomi --sekalipun tanpa jejak sebelumnya. Polanya: menyuap pemilih untuk bisa dibeli atau dibunuh suaranya.

Demokrasi yang sehat pastilah tumbuh dengan kesadaran. Pemilih tidak dianggap sekedar angka-angka. Dan disetir dengan amplop. Berdemokrasi tidak bermakna tanpa kesadaran budayawi: marwah, memihak semua dan dialogis.
***
Lalu, apa yang bisa dilakukan? Secara dialektik,  calon kuat bukan diperlawankan dengan calon yang lebih kuat. Ancaman dilawan dengan kekerasan. Atau, uang dilawan uang. Kontrol akhir praktek kekerasan dan kekuatan uang adalah dilawan dengan kekuatan moral.

Praktek pembelian suara  benar-benar mendegradasi martabat manusia: dari semula manusia bebas merdeka menjadi sejenis android yang hanya berperilaku sesuai program atau aplikasi.

Kalangan pemilih yang kadung terjangkit virus money politics, kesadarannya barangkali perlu di-instal ulang. Dikembalikan sebagai manusia bayi yang fitrah. Dengan sejenis program 'kesadaran paripurna'. Yakni, sosok manusia yang tidak saja berpikir dan berperilaku dengan efisien dan efektif berdasar cara-cara ekonomis material. Namun juga, pribadi yang hidup berikut moral dan spiritualnya.

Wallahu'alam bishawab

Kamis, 23 Agustus 2018

Sejarah Banjar (Negara) #6

ERA KABUPATEN BANJARNEGARA:
Kepindahan Ibu kota, Nama Pejabat dan  Wilayah Kerja

Usai Perang Diponegoro atau Perang Jawa, Governor General menerbitkan resolusi Nomor 1, tanggal 22 Agustus 1831. Isinya menetapkan KRT Dipoyudo IV sebagai Bupati Banjarnegara. Sumpah janji setia jabatan diucapkan dihadapan Sinuwun Paku Buwono VII di Sitihinggil Keraton Surakarta.

Peristiwa 22 Agustus 1831 tersebut, kemudian ditahbiskan dan diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara setiap tahun. Ada beberapa pihak yang keberatan. Pihak ini mengajukan narasi perubahan agar Hari Jadi mengambil waktu lebih tua. Yakni, saat "Peristiwa Mrapat" atau "Peristiwa Mangunyuda Sedoloji".

Dibalik persimpangan ideologi antara KRT Dipoyudo dan KRT Mangunyudo. Menurut Babad Banyumas, sesungguhnya mereka masih sedulur. Begini silsilahnya: Bupati Dipoyudo adalah cucu adik RT Yudonegoro III (Patih Danurejo). Putra RNg. Dipowijoyo, Ngabei Sokaraja, Yogyakarta. Beliau masih trah Tumenggung Mertoyudo, Bupati Banyumas IV -- kakek RNg. Mangunyudo--  yang menikah dengan Nya Embah Mertoyudo.

Nama Kabupaten
Pemerintahan baru, melewati proses meditasi spiritual, mengubah nama Banjar Watulembu atau Banjarmangu menjadi Banjarnegara. Ibu kota Banjar Watulembu dipindah ke selatan Sungai Serayu, dan diberi nama baru: Banjar Negara.

Pejabat Baru
Seorang Bupati tidak bisa bekerja sendiri.  KRT. Dipoyudo IV dalam menjalankan pemerintahan dibantu beberapa pejabat nayaka praja. Antara lain: Mas Cakrayuda sebagai Patih, Mas Mangunyudo sebagai Kliwon, RNg Mangun Subroto sebagai Wedana Banjarnegara. Kemudian Dipowijoyo dan Ranadikrama sebagai Mantri Kabupaten. Selanjutnya, Ki Mangundimeja diangkat sebagai jaksa dan Amad Pekih sebagai Penghulu.

Wilayah
Penataan wilayah administratif Kabupaten Banjarnegara, mula-mula baru dibagi wilayah sebanyak 75 desa, 18 Kecamatan dan 5 distrik/kawedanan (Banjarnegara, Wanadadi, Karangkobar, Batur dan Purworejo Klampok).

Sepeninggal Bupati KRT Dipayuda IV, pondasi pemerintahan dilanjutkan oleh pejabat, berturut-turut:  KRT. Djayadiningrat (1846), KRT. Joyonegoro I (1878), KRT. Joyonegoro II (1896), KRA. Sumitro Kolopaking (1927), R. Sumarto (1949), Mas Sujirno (1960), Raden Sudibyo (1967), Drs. Soewaji (1973), Drs. Winarno Surya Adisubrata (1980), H. Endro Suwaryo (1986), Drs. Nurachmad (1991), Drs. Djasri,MM,MT-Drs. Hadi Supeno (2001), Drs. Djasri, MM, MT-Drs.Soehardjo (2006), Sutedjo Slamet Utomo, SH-Drs. Hadi Supeno,M.Si (2011) dan Budhi Sarwono-Syamsudin, M.Pd (2017-kini).

(bersambung) 

Sejarah Banjar (Negara) #5


ERA KABUPATEN BANJAR WATULEMBU

Setelah masa 12 Bupati, Kabupaten Banjar Petambakan berganti nama menjadi Banjar Watu Lembu atau Banjar Mangu.
Era pemerintahan Banjar Watu Lembu berlangsung pada 1780-1831. Penanda pentingnya adalah pemindahan pusat pemerintah Kabupaten. Dari timur sungai, dipindahkan ke sebelah barat Sungai Merawu (situsnya diperkirakan di sekitar Balai Desa Banjarkulon).

Bupati pertamanya adalah KRT Mangunyudo (1780-1812). Beliau putra Bupati KRT Sosroyudo atau Raden Banyakwide.

Bupati Mangunyuda sangat giat membangun wilayah. Untuk memajukan daerah pernah dilakukan kerjasama dengan Bupati Purbalingga ke-2, KRT Dipokusumo. Untuk bersama-sama memajukan bidang perencanaan, perdagangan, pertukangan, perkebunan dan pertanian.

Pada  tahun 1784 para Bupati se Jawa Tengah dan Jawa Timur diberi pelatihan manajemen di Surabaya. Tujuannya agar kepala daerah memiliki visi bisnis dan pemasaran. Bupati Mangunyuda berkepentingan memasarkan produk unggulan daerah Banjar, diantaranya gula kelapa.

Sosok Bupati Mangunyuda dikenal sangat patriotik. Republiken. Hingga ia dijuluki Mangunyuda Sedo Loji, karena meninggal di Loji bersama pasukannya saat bertempur membela Raja Surakarta Hadiningrat melawan kolonialisme.

Kronologi kematian sosok Mangunyuda masih misteri. Namun sikap kepahlawanannya mematik simpati. Hingga sebagian kalangan penuh harap, angka Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara berpatokan pada peristiwa bersejarah ini.
Sepeninggal KRT Mangunyuda, tampuk kuasa Kabupaten dinobatkan kepada KRT Kertoyudo dengan gelar RNg Mangunyudo II. Lalu dilanjutkan RNg Mangunyudo III yang juga dikenal dengan nama RNg Mangubroto.

Era Kabupaten Banjar Watulembu berakhir, bersamaan surutnya Perang Diponegoro. Perang Diponegoro (1825-1830) menghasilkan perubahan konstelasi politik di dalam Keraton dan kekuasaan di daerah. Termasuk pengaruhnya di Wilayah Kilen, yakni Karesidenan Banjoemas yang meliputi regentchap: Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara.
(bersambung)







Sejarah Banjar (Negara) #4


BUPATI "EMANSIPASI"  KRT REKSAWIJAYA

Sekalipun diawal abad ke-18, peran perempuan di sektor publik masih awam. Ada seorang Bupati Banjarnegara yang sudah cukup peduli dengan upaya peningkatan partisipasi pekerja perempuan.

Namanya KRT Reksawijaya (1710-1723). Ia satu diantara sedikit Bupati yang pernah dilibatkan dalam proyek penyusunan Serat Kandha, semasa Raja Sinuwun Paku Buwono I.

Reksawijaya semasa menjabat sangat perhatian terhadap perkembangan industri rumah tangga (home industry), tidak terkecuali kalangan perempuan.
Pada tahun 1714, sekelompok ibu-ibu pengrajin dikirimnya keluar kota untuk pelatihan cara bikin "payung kebesaran". Tepatnya di pusat kerajinan payung Desa Tanjung Kecamatan Juwiring Klaten.
Payung kebesaran adalah payung khusus yang melambangkan pangkat dan kedudukan seseorang.

Ada banyak jenis payung khusus sebagai pembeda lambang hirakhi: Bupati,  wedana,  mantri,  demang dan abdi dalem.
Semasa Bupati Banjar Petambakan ke-9 ini, sebagian perempuan sudah dibekali kecakapan hidup dan didorong memiliki usaha agar menambah kesejahteraan keluarga. Semacam kegiatan PKK (saat ini) untuk memberdayakan keluarga dan meningkatkan kesejahteraannya.
(Bersambung)

Sejarah Banjar (Negara) #3


BUPATI "WIRAUSAHA" : KRT PURWONAGORO DAN KRT TAMBAKYUDA

Seorang kepala daerah, dimasa lalu, tidak hanya cukup faham seluk beluk birokrasi pemerintahan. Mereka giat menyuntikan virus wirausaha pula. Tujuannya sangat baik: Demi mengejawantahkan masyarakat yang "tata, titi, tentrem" serta "kerta lan raharja".

Bupati KRT Purwonagoro pada 1670 pernah  studi banding. Membawa rombongan untuk belajar cara membuat kecap ke Kabupaten Purwodadi Grobogan. Beliau ingin menumbuhkan kehidupan bisnis. Hasil pertanian, seperti kedelai perlu diolah agar memiliki nilai tambah lebih besar bagi petani.

Bupati yang satu ini bervisi wirausaha (entrepreneurship). Dengan tumbuh industri, khususnya pembuatan kecap, ia berharap sebagian warga Banjar Petambakan makin mandiri. Makin maju dan beragam usaha ekonomi (selain pertanian) yang dijalani warga, maka masyarakat suatu daerah akan hidup lebih makmur.

KRT Purwonagoro juga mencintai kesenian. Dimasa pemerintahannya, seni kerajinan, calung, lenggger, embeg, ketoprak dan wayang berkembang pesat. Dimasa ini pula seniman hidup makmur dan berkecukupan.

Sementara, Bupati KRT Tambakyuda (1680-1698) pernah ditugaskan Raja Sri Amangkurat Amral untuk membangun irigasi Kali Serayu. Tujuan utamanya untuk memperkuat sisi ketahanan pangan yang berbasis pertanian. Irigasi yang baik akan menghidupkan sawah baru. Sekaligus panen padi dan palawija akan lebih sering setiap setahun.

KRT Tambakyuda dikenal pula sebagai ahli metalurgi atau logam. Terutama senjata tradisional keris. Beliau menguasai pengetahuan sekitar 24 pamor keris. Diantaranya: pamor beraswutah, randuru, sekarpala, sulur ringin, udan mas, pandan binetot dan ombaking banyu.
Pun menguasai ilmu penempatan besi. Diantaranya besi 'mangangkang' yang diterangkannya berwarna hitam keunguan, pemakainya akan dicintai oleh banyak orang dan bisa berguna menjadi penawar racun.

Ada banyak jenis besi lainnya: walulin, katub, kamboja, ambal, winduadi, tumpang, werani,  tarate dan welangi. Masing-masing memiliki ciri, aura, guna, dan perawatan yang berbeda-beda.
(bersambung)