Kamis, 23 Agustus 2018

Sejarah Banjar (Negara) #6

ERA KABUPATEN BANJARNEGARA:
Kepindahan Ibu kota, Nama Pejabat dan  Wilayah Kerja

Usai Perang Diponegoro atau Perang Jawa, Governor General menerbitkan resolusi Nomor 1, tanggal 22 Agustus 1831. Isinya menetapkan KRT Dipoyudo IV sebagai Bupati Banjarnegara. Sumpah janji setia jabatan diucapkan dihadapan Sinuwun Paku Buwono VII di Sitihinggil Keraton Surakarta.

Peristiwa 22 Agustus 1831 tersebut, kemudian ditahbiskan dan diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara setiap tahun. Ada beberapa pihak yang keberatan. Pihak ini mengajukan narasi perubahan agar Hari Jadi mengambil waktu lebih tua. Yakni, saat "Peristiwa Mrapat" atau "Peristiwa Mangunyuda Sedoloji".

Dibalik persimpangan ideologi antara KRT Dipoyudo dan KRT Mangunyudo. Menurut Babad Banyumas, sesungguhnya mereka masih sedulur. Begini silsilahnya: Bupati Dipoyudo adalah cucu adik RT Yudonegoro III (Patih Danurejo). Putra RNg. Dipowijoyo, Ngabei Sokaraja, Yogyakarta. Beliau masih trah Tumenggung Mertoyudo, Bupati Banyumas IV -- kakek RNg. Mangunyudo--  yang menikah dengan Nya Embah Mertoyudo.

Nama Kabupaten
Pemerintahan baru, melewati proses meditasi spiritual, mengubah nama Banjar Watulembu atau Banjarmangu menjadi Banjarnegara. Ibu kota Banjar Watulembu dipindah ke selatan Sungai Serayu, dan diberi nama baru: Banjar Negara.

Pejabat Baru
Seorang Bupati tidak bisa bekerja sendiri.  KRT. Dipoyudo IV dalam menjalankan pemerintahan dibantu beberapa pejabat nayaka praja. Antara lain: Mas Cakrayuda sebagai Patih, Mas Mangunyudo sebagai Kliwon, RNg Mangun Subroto sebagai Wedana Banjarnegara. Kemudian Dipowijoyo dan Ranadikrama sebagai Mantri Kabupaten. Selanjutnya, Ki Mangundimeja diangkat sebagai jaksa dan Amad Pekih sebagai Penghulu.

Wilayah
Penataan wilayah administratif Kabupaten Banjarnegara, mula-mula baru dibagi wilayah sebanyak 75 desa, 18 Kecamatan dan 5 distrik/kawedanan (Banjarnegara, Wanadadi, Karangkobar, Batur dan Purworejo Klampok).

Sepeninggal Bupati KRT Dipayuda IV, pondasi pemerintahan dilanjutkan oleh pejabat, berturut-turut:  KRT. Djayadiningrat (1846), KRT. Joyonegoro I (1878), KRT. Joyonegoro II (1896), KRA. Sumitro Kolopaking (1927), R. Sumarto (1949), Mas Sujirno (1960), Raden Sudibyo (1967), Drs. Soewaji (1973), Drs. Winarno Surya Adisubrata (1980), H. Endro Suwaryo (1986), Drs. Nurachmad (1991), Drs. Djasri,MM,MT-Drs. Hadi Supeno (2001), Drs. Djasri, MM, MT-Drs.Soehardjo (2006), Sutedjo Slamet Utomo, SH-Drs. Hadi Supeno,M.Si (2011) dan Budhi Sarwono-Syamsudin, M.Pd (2017-kini).

(bersambung) 

Sejarah Banjar (Negara) #5


ERA KABUPATEN BANJAR WATULEMBU

Setelah masa 12 Bupati, Kabupaten Banjar Petambakan berganti nama menjadi Banjar Watu Lembu atau Banjar Mangu.
Era pemerintahan Banjar Watu Lembu berlangsung pada 1780-1831. Penanda pentingnya adalah pemindahan pusat pemerintah Kabupaten. Dari timur sungai, dipindahkan ke sebelah barat Sungai Merawu (situsnya diperkirakan di sekitar Balai Desa Banjarkulon).

Bupati pertamanya adalah KRT Mangunyudo (1780-1812). Beliau putra Bupati KRT Sosroyudo atau Raden Banyakwide.

Bupati Mangunyuda sangat giat membangun wilayah. Untuk memajukan daerah pernah dilakukan kerjasama dengan Bupati Purbalingga ke-2, KRT Dipokusumo. Untuk bersama-sama memajukan bidang perencanaan, perdagangan, pertukangan, perkebunan dan pertanian.

Pada  tahun 1784 para Bupati se Jawa Tengah dan Jawa Timur diberi pelatihan manajemen di Surabaya. Tujuannya agar kepala daerah memiliki visi bisnis dan pemasaran. Bupati Mangunyuda berkepentingan memasarkan produk unggulan daerah Banjar, diantaranya gula kelapa.

Sosok Bupati Mangunyuda dikenal sangat patriotik. Republiken. Hingga ia dijuluki Mangunyuda Sedo Loji, karena meninggal di Loji bersama pasukannya saat bertempur membela Raja Surakarta Hadiningrat melawan kolonialisme.

Kronologi kematian sosok Mangunyuda masih misteri. Namun sikap kepahlawanannya mematik simpati. Hingga sebagian kalangan penuh harap, angka Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara berpatokan pada peristiwa bersejarah ini.
Sepeninggal KRT Mangunyuda, tampuk kuasa Kabupaten dinobatkan kepada KRT Kertoyudo dengan gelar RNg Mangunyudo II. Lalu dilanjutkan RNg Mangunyudo III yang juga dikenal dengan nama RNg Mangubroto.

Era Kabupaten Banjar Watulembu berakhir, bersamaan surutnya Perang Diponegoro. Perang Diponegoro (1825-1830) menghasilkan perubahan konstelasi politik di dalam Keraton dan kekuasaan di daerah. Termasuk pengaruhnya di Wilayah Kilen, yakni Karesidenan Banjoemas yang meliputi regentchap: Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara.
(bersambung)







Sejarah Banjar (Negara) #4


BUPATI "EMANSIPASI"  KRT REKSAWIJAYA

Sekalipun diawal abad ke-18, peran perempuan di sektor publik masih awam. Ada seorang Bupati Banjarnegara yang sudah cukup peduli dengan upaya peningkatan partisipasi pekerja perempuan.

Namanya KRT Reksawijaya (1710-1723). Ia satu diantara sedikit Bupati yang pernah dilibatkan dalam proyek penyusunan Serat Kandha, semasa Raja Sinuwun Paku Buwono I.

Reksawijaya semasa menjabat sangat perhatian terhadap perkembangan industri rumah tangga (home industry), tidak terkecuali kalangan perempuan.
Pada tahun 1714, sekelompok ibu-ibu pengrajin dikirimnya keluar kota untuk pelatihan cara bikin "payung kebesaran". Tepatnya di pusat kerajinan payung Desa Tanjung Kecamatan Juwiring Klaten.
Payung kebesaran adalah payung khusus yang melambangkan pangkat dan kedudukan seseorang.

Ada banyak jenis payung khusus sebagai pembeda lambang hirakhi: Bupati,  wedana,  mantri,  demang dan abdi dalem.
Semasa Bupati Banjar Petambakan ke-9 ini, sebagian perempuan sudah dibekali kecakapan hidup dan didorong memiliki usaha agar menambah kesejahteraan keluarga. Semacam kegiatan PKK (saat ini) untuk memberdayakan keluarga dan meningkatkan kesejahteraannya.
(Bersambung)

Sejarah Banjar (Negara) #3


BUPATI "WIRAUSAHA" : KRT PURWONAGORO DAN KRT TAMBAKYUDA

Seorang kepala daerah, dimasa lalu, tidak hanya cukup faham seluk beluk birokrasi pemerintahan. Mereka giat menyuntikan virus wirausaha pula. Tujuannya sangat baik: Demi mengejawantahkan masyarakat yang "tata, titi, tentrem" serta "kerta lan raharja".

Bupati KRT Purwonagoro pada 1670 pernah  studi banding. Membawa rombongan untuk belajar cara membuat kecap ke Kabupaten Purwodadi Grobogan. Beliau ingin menumbuhkan kehidupan bisnis. Hasil pertanian, seperti kedelai perlu diolah agar memiliki nilai tambah lebih besar bagi petani.

Bupati yang satu ini bervisi wirausaha (entrepreneurship). Dengan tumbuh industri, khususnya pembuatan kecap, ia berharap sebagian warga Banjar Petambakan makin mandiri. Makin maju dan beragam usaha ekonomi (selain pertanian) yang dijalani warga, maka masyarakat suatu daerah akan hidup lebih makmur.

KRT Purwonagoro juga mencintai kesenian. Dimasa pemerintahannya, seni kerajinan, calung, lenggger, embeg, ketoprak dan wayang berkembang pesat. Dimasa ini pula seniman hidup makmur dan berkecukupan.

Sementara, Bupati KRT Tambakyuda (1680-1698) pernah ditugaskan Raja Sri Amangkurat Amral untuk membangun irigasi Kali Serayu. Tujuan utamanya untuk memperkuat sisi ketahanan pangan yang berbasis pertanian. Irigasi yang baik akan menghidupkan sawah baru. Sekaligus panen padi dan palawija akan lebih sering setiap setahun.

KRT Tambakyuda dikenal pula sebagai ahli metalurgi atau logam. Terutama senjata tradisional keris. Beliau menguasai pengetahuan sekitar 24 pamor keris. Diantaranya: pamor beraswutah, randuru, sekarpala, sulur ringin, udan mas, pandan binetot dan ombaking banyu.
Pun menguasai ilmu penempatan besi. Diantaranya besi 'mangangkang' yang diterangkannya berwarna hitam keunguan, pemakainya akan dicintai oleh banyak orang dan bisa berguna menjadi penawar racun.

Ada banyak jenis besi lainnya: walulin, katub, kamboja, ambal, winduadi, tumpang, werani,  tarate dan welangi. Masing-masing memiliki ciri, aura, guna, dan perawatan yang berbeda-beda.
(bersambung)

SEJARAH BANJAR (NEGARA) #2


BUPATI "KONSERVASI" : 
KRT WIRAKUSUMA dan KRT WIRAWIJAYA

Bupati KRT Wirakusuma (1620-1647) giat sekali dengan program penghijauan. Prestasi pemerintahannya, terutama dibidang lingkungan hidup, wilayah Banjar Petambakan khususnya di Pegunungan Serayu Selatan berhasil hijau sejuk dan memberi suasana magis. Cocok untuk kontemplasi spiritual. Ia bisa disebut sebagai Bupati Konservasi.

Tidak hanya reboisasi, KRT Wirakusuma dikenal ahli dalam bidang pertanian dan produk kuliner. Saat itu, penjual makanan dan minuman di wilayah Banjar Petambakan dibina untuk menjaga produk selalu higienis.

Sementara Bupati KRT Wirawijaya (1647-1659) merupakan tangan kanan Sinuwun Amangkurat Agung. Beliau pernah usul agar Keraton dipindahkan ke Tegal atau Banyumas.
Kebijakan menonjol KRT Wirawijaya adalah penanaman pohon buah-buahan diwilayah Utara. Bagian utara Kabupaten Banjar Petambakan terdapat Gunung Prahu, gunung Pengamun-amun, gunung Gajahmungkur, gunung Ratawu, gunung Ragajembangan, gunung Mandala dan gunung Pawinihan.

Dalam sejarahnya, KRT Wirawijaya juga seorang bupati yang gemar berolah raga. Setiap hari kamis beliau mengadakan lomba renang di Kali Serayu. Beliau kerap hadir dengan menaburkan uang recehan ke dalam kali. Kemudian peserta berebut dengan cara menyelam.
(Bersambung)

Senin, 20 Agustus 2018

Sejarah Banjar(negara) #1

Sejarah lokal senantiasa menarik untuk disimak. Bukan hanya intrik-intrik politik antar tokohnya dalam berebut kuasa. Namun, sesungguhnya terdapat sejumlah pandangan visioner dan aksi monumental tokohnya yang melampaui jaman.

Katakanlah, sejenis keahlian, karya nyata, buah pemikiran dan keunikan pribadi para Bupati yang hingga hari ini kita masih bisa memetik inspirasi dan mencontoh teladan hidupnya.

Tentu saja uraian ini tidak luput dari kesalahan dan kedangkalan. Dan kiranya bagi yang berminat dapat mengkritisi dan menyempurnakannya.

*PERIODISASI
Sejarah Banjarnegara setidaknya dapat dibagi kedalam 3 periodisasi: Jaman Kabupaten Banjar Petambakan (1582-1780) dengan dua belas masa bupati, Jaman Kabupaten Banjarwatulembu (1780-1831) dengan dua masa bupati dan Jaman Kabupaten Banjarnegara (1831-kini) dengan 15 masa bupati.

*KABUPATEN BANJAR PETAMBAKAN
Kabupaten Banjar Petambakan berdiri pada jaman Keraton Pajang. Saat itu sang raja bernama Joko Tingkir atau Mas Karebet. Kelak bergelar Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Keraton Pajang merupakan perpindahan kekuasaan dari Keraton Demak Bintoro.

Asal mula Kabupaten Banjar Petambakan erat sekali dengan kisah Raden Joko Kaiman. Beliau menantu Adipati Wirasaba (kini, Purbalingga) Wargahutama I yang mendapat anugerah Sultan Hadiwijaya di Pajang untuk melanjutkan pemerintahan mertuanya.

Raden Joko Kaiman saat menjabat Adipati bergelar Wargahutama II. Menyadari bahwa dirinya hanya seorang menantu -- seijin Raja Pajang-- Raden Joko Kaiman membagi wilayah kekuasaan Wirasaba menjadi 4 wilayah: Wirasaba, Merden, Kejawar dan Banjar Petambakan.

Peristiwa bersejarah ketika Bupati Wirasaba Wargahutama II "mrapat" wilayah berlangsung pada 6 April 1582. Angka tahun tersebut sesungguhnya bisa dibilang sebagai "permulaan" sejarah pemerintahan Banjar Petambakan.

Bupati Banjar Petambakan pertama adalah KRT Wiroyudo (1582-1594). Beliau peletak dasar birokrasi di daerah. Bupati Banjar Petambakan berikutnya KRT Wargahutama (1594-1620) yang diangkat pada masa pemerintahan Keraton Mataram dipimpin Panembahan Senopati. Selanjutnya hingga ke-12 Bupati Banjar Petambakan berturut-turut adalah, KRT Wirakusuma (1620-1647), KRT Wirawijaya (1647-1659), KRT Purwanagoro (1659-1671), KRT Wirapraja (1671-1680), KRT Tambakyuda (1680-1698), KRT Reksayuda (1698-1710), KRT Reksawijaya (1710-1723), KRT Purwawijaya (1723-1730),  KRT Wironagoro (1730-1738), dan KRT Sosroyuda (1738-1780).

(sumber: Dr.  PURWADI, Buku Sejarah Kademangan Gumelem)
Bersambung - - >
Keahlian dan Keunikan
Para Bupati Banjar Petambakan.